Pakar ITB: Saat ini pendakian Dukono sama sekali tidak boleh dilakukan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Bandung (ANTARA) - Pakar Volkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Mirzam Abdurrachman menegaskan bahwa aktivitas pendakian ke Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, sama sekali tidak boleh dilakukan menyusul peningkatan status menjadi Level 3 (Siaga) sejak 17 April 2026 lalu.

Langkah tegas ini menjadi sorotan utama demi memutus rantai nekatnya para pendaki yang berburu popularitas demi konten media sosial di tengah ancaman fatal bom vulkanik dan awan panas pasca-peristiwa erupsi di sana yang memakan korban jiwa baru-baru ini.

“Keselamatan itu tidak bisa digantikan dengan kesenangan kita, dengan popularitas kita, mendapatkan like dari video maupun foto saat kita bisa selfie pada waktu erupsi,” ujar Mirzam di Bandung, Jawa Barat, Rabu.

Dosen Kelompok Keahlian Petrologi, Volkanologi, dan Geokimia Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB tersebut memaparkan ketatnya larangan ini didasarkan pada peningkatan eskalasi aktivitas vulkanik Dukono secara beruntun.

Pada Agustus 2024, rekomendasi radius aman berada pada jarak 3 kilometer (Level 2/Waspada), yang kemudian meluas menjadi 4 kilometer pada Desember 2024. Saat ini, dengan status Level 3, gunung api paling aktif tersebut sepenuhnya tertutup bagi segala bentuk kunjungan.

"Kalau tadi jarak amannya sampai 4 kilometer, sekarang pendakian sudah tidak boleh dilakukan dengan alasan apa pun," katanya menegaskan.

Baca juga: TNI kirim tambahan personel bantu evakuasi korban erupsi Gunung Dukono

Mirzam meluruskan kekeliruan fatal para pendaki yang sering kali hanya mengandalkan arah mata angin untuk menghindari abu vulkanik.

Menurutnya, letusan gunung api melontarkan material yang jauh lebih mematikan dan tidak terpengaruh oleh angin, seperti bom vulkanik yang bergerak secara balistik, hingga awan panas (wedhus gembel) berkecepatan tinggi.

"Usaha kita melihat arah angin ke mana itu hanya meminimalisir salah satu bencana, yaitu jatuhnya abu vulkanik yang terbawa angin," ujar Mirzam.

Ia memberikan analogi bahaya nyata di lapangan di mana kecepatan awan panas tidak memberikan ruang bagi manusia untuk menyelamatkan diri jika sudah melanggar batas aman.

"Kalau yang keluar adalah wedhus gembel dengan kecepatan 150 kilometer per jam, mau naik, mau turun, mau ke mana pun, kalau sudah melintas, kita tidak punya kesempatan waktu untuk lari," ucapnya.

Di sisi lain, ITB mengidentifikasi kendala krusial dalam mitigasi bencana di sekitar Gunung Dukono, yakni hambatan bahasa dan keterbatasan akses internet yang membuat informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kerap tersendat ke lapisan bawah.

Baca juga: Erupsi Gunung Dukono, pendaki yang masih dalam pencarian tiga orang

"Tidak semua terhubung dengan jaringan internet. Tidak semua orang memahami warning system. Ada beberapa yang juga tidak bisa berbahasa Indonesia di daerah itu," ucapnya terkait kondisi sosiologis masyarakat setempat.

Sebagai solusi hambatan tersebut, Mirzam mendorong pelibatan aktif tokoh adat, kepala desa, dan pemandu lokal sebagai jembatan komunikasi ilmiah agar sistem peringatan dini dapat dipahami secara utuh.

"Tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap dituakan dan bisa dipercaya adalah tokoh-tokoh sentral yang harus diedukasi juga," tutur Mirzam.

Kendati memiliki risiko tinggi, ia menyatakan bahwa keindahan atraksi visual gunung api aktif tetap dapat dinikmati secara aman oleh wisatawan, asalkan mematuhi seluruh koridor hukum dan sains yang dikeluarkan oleh otoritas resmi pemerintah, bukan sekadar asumsi pribadi atau pengelola wisata lokal.

"Setiap wisatawan harus mencari informasi yang cukup, apakah ini saat yang tepat, apakah ini paling berisiko atau tidak. Itu harus ditakar. Bisa tidak kita menikmati gunung api pada waktu erupsi? Bisa, tanpa harus celaka, asal kita mematuhi jarak aman tertentu," ucapnya.

Menutup keterangannya, Mirzam kembali melempar pesan kuat bagi seluruh komunitas pendaki dan masyarakat luas agar tidak menggadaikan hidup demi validasi semu di dunia maya.

"Like yang kita dapat dan popularitas itu tidak sebanding dengan harga yang harus dibayar," tuturnya.

Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat saat ini G Dukono berada pada Status Level II (Waspada) dengan rekomendasi masyarakat di sekitar Gunung Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 4 km.

Lalu, mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landasan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar Gunung Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

Baca juga: SAR evakuasi 20 pendaki akibat erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.