Suasana duka masih menyelimuti rumah keluarga Mandala Rizky Syaputra (16), pelajar SMK di Samarinda yang meninggal dunia. Sejumlah papan bunga ucapan belasungkawa tampak mulai berdatangan sebagai bentuk simpati dari berbagai pihak, termasuk dari Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud.
Berdasarkan pantauan di lokasi, papan bunga dari Gubernur Kaltim tiba pada Selasa (5/5/2026) siang dan langsung dipasang di sekitar rumah duka. Kehadiran karangan bunga tersebut menambah deretan ucapan duka yang sebelumnya sudah lebih dulu memenuhi area depan rumah.
Ucapan belasungkawa yang tertera di papan bunga tersebut berbunyi:
“Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Ananda Mandala Rizky Syaputra. Semoga almarhum husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.”
Selain dari pemerintah, ucapan duka juga mengalir dari lingkungan sekolah almarhum. Saat tim kumparan mendatangi sekolah tempat Mandala menimba ilmu, suasana haru terasa di kalangan guru dan siswa.
Para guru menyebut Mandala sebagai sosok siswa yang baik, aktif, dan memiliki sikap yang patut dicontoh.
“Mandala itu anak yang baik, aktif di sekolah, dan sering menjadi contoh bagi teman-temannya,” ujar salah satu guru, Ridwan, wali kelasnya saat di kelas 7.
Hal senada juga disampaikan oleh teman-teman sekelasnya. Mereka mengenang Mandala sebagai pribadi sederhana yang mudah bergaul dan tidak pernah menimbulkan masalah.
“Dia selalu baik sama semua orang, sering membantu teman, dan jadi panutan di kelas,” ungkap Paisal.
Di sisi lain, perhatian publik turut tertuju pada barang-barang pribadi milik Mandala, salah satunya sepatu sekolah yang disebut-sebut dalam cerita keluarga sebagai awal dari keluhan sakit yang dialami korban.
Sepatu tersebut terlihat sudah dalam kondisi sempit dan aus, memperkuat dugaan bahwa Mandala tetap menggunakannya meski tidak lagi sesuai ukuran.
Akibat penggunaan sepatu kekecilan itu, kaki Mandala bengkak hingga sakit saat berjalan, bagian atas kaki mulai membesar.
Meski sakit, Mandala tetap menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk magang. Ia lebih banyak berdiri dan hanya duduk saat waktu istirahat. Keluhan biasanya disampaikan setelah pulang ke rumah.
Keluarga menyebut, keterbatasan ekonomi menjadi alasan Mandala tidak segera mengganti sepatu tersebut. Ia memilih tetap bersekolah dengan kondisi seadanya tanpa ingin membebani orang tuanya.
Peristiwa ini tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga memantik keprihatinan luas tentang kondisi sosial dan ekonomi yang masih dihadapi sebagian masyarakat, khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasar pendidikan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·