Wamena (ANTARA) - Suasana di Mako Polres Jayawijaya, siang itu cukup tegang. Penjagaan di pintu masuk dilakukan anggota Polres Jayawijaya, dibantu anggota Brimob untuk memastikan setiap orang yang masuk tidak membawa alat perang, supaya jalannya upaya perdamaian yang dihadiri Wamendagri RI Ribka Haluk berjalan dengan aman dan lancar.
Proses perdamaian dilakukan secara adat, yakni dengan patah panah atau melelas tali busur sebagai tanda dihentikan atau perdamaian antara kedua suku yang berkonflik di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya.
Proses patah panah dilakukan di Lapangan Apel Mako Polres Jayawijaya itu ,merupakan wujud hadirnya negara, dimana kedua belah pihak yang bertikai dipisahkan dan di tengah-tengah berdiri Ketua LMA Kabupaten Jayawijaya dan Lanny Jaya, sambil menjelaskan terkait proses patah panah menggunakan bahasa daerah Hubula dan Lani.
Ketua LMA Jayawijaya dan Lanny Jaya berdiri di depan, dan setiap suku yang bertikai mengirimkan lima orang untuk saling dihadapkan. Kemudian, mereka diarahkan untuk mengikuti rangkaian perdamaian yang telah dibuat, yakni patah panah, melepas tali busur, dengan disaksikan Wamendagri RI Ribka Haluk, beberapa petinggi daerah dan aparat keamanan.
Setelah mereka menyepakati apa yang disampaikan oleh Ketua LMA Kabupaten Jayawijaya dan Lanny Jaya, maka kelima perwakilan dari suku yang bertikai langsung mematahkan panah, melepas busur sebagai tanda perdamaian atau dihentikannya perang.
Kemudian, kelima perwakilan dari suku yang bertikai, dilanjutkan menandatangani berita acara sebagai dasar hukum kepada pemerintah dan aparat keamanan bahwa perang suku antarsuku tidak akan dilakukan lagi. Jika terjadi lagi perang suku di antara kedua suku tersebut, maka akan ditindak secara hukum positif guna memberikan efek jera bagi pelakunya.
Masyarakat adat wilayah Papua Pegunungan masih memegang teguh budaya dan adat istiadat yang telah diwariskan nenek moyang, sejak ratusan tahun lalu dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Masyarakat Papua Pegunungan masih mempertahankan kehidupan berkelompok, hidup dari tatanan sosial bersama, sehingga dalam segala aktivitas sosial, pertanian, perkebunan, bahkan penyelesaian masalah masih dilakukan secara bersama-sama.
Orang asli Papua (OAP) Pegunungan yang mendiami wilayah Papua Tengah dan Papua Pegunungan sering disebut sebagai masyarakat "Pegunungan" yang memiliki banyak suku.
Kabupaten Jayawijaya memiliki suku asli bernama Dani atau Hubula, Kabupaten Yahukimo memiliki Suku Yali, Hubula, Kimyal, Momuna. Kabupaten Lanny Jaya dan Tolikara memiliki Suku Lani.
Sementara Kabupaten Nduga memiliki suku asli Nduga, Kabupaten Pegunungan Bintang memiliki Suku Ngalum, Ketengban, Murop, Lepki. Kabupaten Yalimo memiliki Suku Yali dan Kabupaten Mamberamo Tengah memiliki Suku Dani dan Lani.
Selain nama-nama di atas, terdapat berbagai subsuku lainnya yang tersebar di wilayah adat Papua Pegunungan. Sebagian besar suku-suku tersebut masih memegang teguh tradisi leluhur, seperti upacara adat bakar batu, bermukim di rumah tradisional Honai dan perang suku.
Dengan banyaknya suku-suku yang mendiami wilayah Papua Pegunungan, maka "gesekan" satu dengan lainnya tak terelakkan, baik dalam perselisihan untuk mempertahankan batas-batas tanah adat, asusila, pembunuhan, minuman beralkohol, pencurian, kecelakaan lalu lintas, penghinaan dan lain sebagainya.
Beberapa waktu lalu, di Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, sekaligus Ibu Kota Provinsi Papua Pegunungan, terjadi perang suku antara Lani dan Yali yang tidak sedikit menyebabkan korban jiwa serta hilangnya harta benda.
Persoalan itu dilatarbelakangi masalah kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminalitas pembunuhan kepada seorang perempuan, sehingga menyebabkan perang antarsuku. Masalah ini menjadi perhatian serius pemerintah pusat dan daerah.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·