BADAN Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) menyatakan kondisi kemanusiaan di Libanon terus memburuk meski gencatan senjata masih berlangsung. Situasi diperparah oleh serangan terhadap fasilitas kesehatan yang menewaskan petugas medis dan paramedis.
Dalam 24 jam terakhir, tercatat lebih dari 100 serangan terjadi. Sementara itu, sebanyak 87 orang dilaporkan tewas sepanjang akhir pekan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Libanon yang dikutip OCHA, sedikitnya 2.846 orang meninggal dan 8.693 lainnya terluka sejak konflik antara Israel dan Hizbollah meningkat pada 2 Maret lalu.
Pada Senin, 11 Mei 2026, kementerian tersebut melaporkan dua paramedis tewas dan beberapa lainnya cedera akibat serangan udara yang menghantam lokasi layanan kesehatan di Qalaway dan Tibnin, Libanon selatan. OCHA mengatakan para paramedis itu sedang menangani korban dari serangan sebelumnya saat insiden terjadi.
Sejak eskalasi dimulai, World Health Organization mencatat 158 serangan terhadap fasilitas kesehatan. Serangan-serangan itu menyebabkan 108 orang meninggal dan 249 lainnya terluka. OCHA menegaskan serangan terhadap tenaga medis dan kemanusiaan tidak dapat dibenarkan karena semakin melemahkan sistem kesehatan dan menghambat akses layanan darurat bagi warga sipil.
OCHA juga menyebut tiga rumah sakit dan 41 pusat layanan kesehatan primer masih tutup, sementara sejumlah fasilitas lain hanya beroperasi terbatas. Di wilayah Libanon selatan, enam rumah sakit belum kembali membuka layanan persalinan yang sebelumnya dihentikan selama konflik berlangsung.
Selama akhir pekan, Israel kembali mengeluarkan perintah evakuasi untuk sejumlah kota dan desa di Libanon selatan serta Kegubernuran Nabatieh. Langkah itu memicu gelombang pengungsian baru dan meningkatkan tekanan terhadap tempat penampungan maupun komunitas penerima pengungsi.
Menurut OCHA, para pengungsi, terutama kelompok rentan seperti ibu hamil, menghadapi keterbatasan akses terhadap makanan bergizi dan beragam sehingga meningkatkan risiko kesehatan.
Meski menghadapi berbagai hambatan, organisasi-organisasi kemanusiaan tetap menyalurkan bantuan bersama pemerintah Libanon. Hingga kini, mitra kesehatan telah membantu lebih dari 585 pasien dirawat di rumah sakit, memberikan lebih dari 18 ribu dosis vaksin melalui pusat kesehatan primer, serta menyediakan lebih dari 4.300 layanan pemeriksaan kehamilan.
Di sektor ketahanan pangan, bantuan yang telah disalurkan mencapai lebih dari 8,4 juta porsi makanan.
Namun, OCHA menilai kebutuhan kemanusiaan masih jauh melampaui dana yang tersedia. Dari total permintaan dana darurat sebesar 308 juta dolar AS untuk periode Maret hingga akhir Mei, baru sekitar 41 persen yang terpenuhi. OCHA memperingatkan layanan penting seperti kesehatan, air bersih, dan sanitasi berisiko terganggu apabila pendanaan tidak segera dipenuhi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·