Aktivitas pengiriman minyak di jalur pelayaran paling vital dunia secara perlahan mulai menunjukkan tanda pemulihan. Dilansir dari Money, tiga kapal tanker raksasa berbendera Arab Saudi dilaporkan mulai melintasi Selat Hormuz pasca-penandatanganan kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mengakhiri ketegangan selama beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan data dari perusahaan intelijen perdagangan global Kpler, ketiga kapal milik Arab Saudi tersebut mengangkut total 6 juta barrel minyak mentah. Ketiganya merupakan jenis very large crude carrier (VLCC) atau kapal tanker berkapasitas sangat besar yang masing-masing mampu membawa hingga sekitar 2 juta barrel minyak.
Meskipun demikian, lalu lintas kapal di Selat Hormuz belum sepenuhnya kembali normal. Pelaku industri pelayaran dan asuransi saat ini masih bersikap hati-hati sembari menunggu kepastian keamanan dan implementasi menyeluruh dari kesepakatan damai tersebut.
Kapal-kapal tanker Arab Saudi tersebut kembali menyalakan transponder atau alat pelacak posisi mereka di Teluk Oman setelah lebih dari dua bulan menyembunyikan lokasi pelayaran. Pergerakan ini terjadi sehari setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Dalam rincian perjalanan, kapal tanker Shaden diketahui berlayar menuju Kiire, Jepang, sedangkan Awtad bergerak ke Ulsan, Korea Selatan. Sementara itu, tujuan akhir untuk kapal bernama Jaham hingga saat ini belum diketahui secara pasti.
Direktur Riset Komoditas Kpler Matt Smith memberikan catatan bahwa aktivitas kapal memang mulai bergerak, namun belum menunjukkan lonjakan yang signifikan di kawasan tersebut.
"Pintu belum terbuka, belum ada eksodus massal," kata Smith.
Menurut analisisnya, perusahaan pelayaran global tampaknya masih ragu untuk kembali melintasi Selat Hormuz secara masif. Sebagai perbandingan, sebelum konflik Iran pecah, terdapat lebih dari 100 kapal termasuk puluhan kapal tanker yang melintasi selat ini setiap hari.
Dampak Pengalihan Ekspor Minyak
Laporan dari Reuters menyebutkan bahwa keberangkatan tiga kapal tanker Saudi ini menjadi yang terbanyak dalam beberapa pekan terakhir. Selama konflik berlangsung, Arab Saudi sebagai produsen terbesar di OPEC lebih banyak menggunakan terminal minyak Yanbu di Laut Merah untuk mengamankan ekspor mereka.
Strategi pengalihan tersebut terpaksa dilakukan karena Selat Hormuz praktis tidak dapat digunakan secara normal akibat perang. Kondisi tersebut sempat membuat ratusan juta barel minyak tertahan di berbagai pelabuhan kawasan Teluk.
Hingga kini, perusahaan pelayaran Arab Saudi, Bahri, yang mengelola ketiga kapal tanker raksasa tersebut belum memberikan komentar resmi terkait perkembangan terbaru ini.
Aktivitas Kapal Internasional dan Logistik Global
Selain armada Arab Saudi, pergerakan pengapalan minyak juga mulai terlihat di luar Selat Hormuz, seperti di sekitar pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA). Dua dari tiga kapal tanker yang memuat minyak di Fujairah bahkan sudah mulai berlayar menuju Eropa.
Kapal tanker Aframax berbendera Hong Kong, Tong Lin Wan, juga berhasil melintasi selat tersebut. Kapal yang mengangkut nafta dari kilang Ruwais di Abu Dhabi sejak awal Maret ini sempat tertahan di kawasan Teluk selama berbulan-bulan.
Di samping itu, kapal pengangkut gas alam cair (LNG) Mraikh yang dikendalikan QatarEnergy tercatat melintasi Selat Hormuz untuk mengirimkan muatan menuju Port Qasim, Pakistan. Kapal tanker berukuran medium-range Ye Chi juga terlihat berlayar melewati Pulau Larak milik Iran sebelum akhirnya berhenti di kawasan selat.
Di sisi lain, lima kapal milik Iran dilaporkan telah melintasi garis blokade AS, dengan tiga di antaranya merupakan kapal tanker minyak milik negara yang keluar dari Teluk Oman. Kesepakatan baru ini memang membuka peluang bagi penjualan minyak dan bahan bakar Iran berdasarkan nota kesepahaman (MOU) terbaru.
Sikap Kehati-hatian Industri Pelayaran
Asosiasi pemilik kapal tanker independen dunia, INTERTANKO, menyatakan bahwa industri masih membutuhkan kejelasan mengenai keamanan navigasi secara menyeluruh. Mereka mendesak proses pembersihan ranjau laut segera dilakukan serta wilayah berbahaya diumumkan secara terbuka.
"Tentu saja, beberapa kapal akan mulai bergerak. Itu wajar," kata Managing Director INTERTANKO Tim Wilkins.
Wilkins menambahkan bahwa meskipun pergerakan awal merupakan hal yang wajar setelah tercapainya kesepakatan damai, kepastian keamanan yang lebih kuat tetap menjadi prioritas utama. Pandangan serupa disampaikan oleh Chief Executive Officer Lloyd’s Market Association Sheila Cameron yang menilai proses pemulihan akan berjalan panjang.
"Jalan menuju pemulihan di Teluk akan panjang dan rumit," tutur Cameron.
Menurutnya, dibutuhkan waktu berbulan-bulan agar aktivitas pelayaran internasional kembali normal mengingat posisi kapal yang sempat berpindah dan rantai pasok global yang telah terganggu selama masa konflik.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·