Dampak penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksikan mulai memicu kenaikan inflasi pada komponen impor bulan Mei 2026. Penegasan tersebut disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty di Jakarta pada Senin, 18 Mei 2026.
Kenaikan harga barang impor akibat depresiasi mata uang ini diprediksi akan memengaruhi hasil perhitungan inflasi nasional secara resmi. Pemerintah menjadwalkan pengumuman angka inflasi tersebut pada awal Juni mendatang.
Sektor pengeluaran yang mengandalkan bahan baku luar negeri menjadi wilayah paling rentan. Beberapa komoditas yang diperkirakan terdampak meliputi sektor obat-obatan, elektronik, otomotif, petrokimia, gandum, peralatan berat, hingga telekomunikasi.
"Imported inflation akibat pelemahan rupiah dapat mulai dirasakan di Mei. Kelompok pengeluaran yang paling terdampak adalah yang terkait dengan komponen tinggi impor," kata Telisa Aulia Falianty, Guru Besar FEB UI.
Indikasi tekanan terhadap inflasi nasional sebenarnya telah terdeteksi dalam hitungan bulan terakhir. Sinyal ini terlihat jelas dari pergerakan naik pada tren Indeks Harga Perdagangan Besar yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik.
"Biasanya, Indeks Harga Perdagangan Besar akan memengaruhi inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen)," ucap Telisa Aulia Falianty, Guru Besar FEB UI.
Oleh karena itu, otoritas terkait didorong untuk segera merumuskan langkah mitigasi risiko. Langkah efisiensi pada pos biaya logistik dinilai mampu membantu pelaku usaha dalam menekan beban kenaikan harga produksi.
Produsen juga diimbau menjaga batas kenaikan harga jual pada level rasional agar daya beli masyarakat tidak terbebani. Selain itu, strategi diversifikasi mata uang non-dolar dalam transaksi internasional perlu diperluas demi mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
"Karena kalau rupiah stabil, imported inflation dapat dikendalikan," ujar Telisa Aulia Falianty, Guru Besar FEB UI.
Data dari pasar spot menunjukkan nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 5,99 persen terhadap dolar AS sepanjang tahun kalender berjalan. Pada penutupan perdagangan Senin, mata uang domestik melemah ke posisi Rp17.668 per dolar AS setelah sebelumnya bertengger di level Rp17.597 per dolar AS.
Kondisi serupa tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia yang melemah ke angka Rp17.666 per dolar AS dari posisi hari sebelumnya senilai Rp17.496 per dolar AS. Sementara itu, catatan BPS menunjukkan kenaikan tahunan IHPB sebesar 3,81 persen pada April lalu setelah terus merangkak naik dari posisi 106,00 pada Januari menjadi 109,07.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·