Presiden RI Prabowo Subianto memastikan penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah atau 2026 Masehi tetap berjalan sesuai jadwal meskipun situasi geopolitik di Timur Tengah tengah memanas pada Rabu (15/4/2026). Pemerintah menegaskan bahwa aspek keselamatan jemaah menjadi prioritas tertinggi dalam menghadapi eskalasi tersebut.
Menteri Haji dan Umroh, K.H. Mochamad Irfan Yusuf Hasyim, menyatakan bahwa koordinasi intensif telah dilakukan dengan berbagai pihak otoritas. Dilansir dari Bloombergtechnoz, langkah ini melibatkan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perhubungan, serta otoritas penerbangan dan pemerintah Arab Saudi.
"Eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah menjadi perhatian pemerintah dalam penyelenggaraan ibadah haji. Presiden memerintahkan bahwa keselamatan jemaah adalah prioritas utama," kata Irfan Yusuf Hasyim dalam konferensi pers di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta.
Irfan menjelaskan bahwa mitigasi risiko mencakup seluruh tahap perjalanan, mulai dari keberangkatan dari Indonesia hingga distribusi logistik di Tanah Suci. Fokus pengamanan ini bertujuan memastikan jemaah tetap nyaman di tengah dinamika ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pemerintah menetapkan kuota haji Indonesia tahun 2026 sebanyak 221.000 orang. Komposisi tersebut terdiri dari 203.320 jemaah haji reguler atau sekitar 92 persen, serta 17.680 jemaah haji khusus yang mengisi 8 persen sisa kuota.
Kelompok terbang (kloter) pertama dijadwalkan mulai berangkat pada 22 April 2026 dengan tujuan awal Madinah sebelum bergeser ke Makkah. Rangkaian keberangkatan ini akan terus berlangsung secara bertahap hingga penerbangan terakhir pada 21 Mei 2026.
Puncak ibadah haji diperkirakan jatuh pada 22 Mei 2026, dengan prosesi inti ibadah haji yang berlangsung pada 26 Mei 2026. Setelah rangkaian ibadah selesai, pemulangan jemaah ke tanah air dijadwalkan terlaksana mulai 1 Juni hingga 1 Juli 2026.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·