Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmen pemerintah untuk mempertahankan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah level 3 persen pada Jumat (17/4/2026). Langkah disiplin fiskal ini merupakan instruksi langsung Presiden guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Dilansir dari Kompas, kebijakan tersebut disampaikan Purbaya sebagai respon atas pandangan lembaga keuangan internasional terhadap kapasitas fiskal Indonesia. Keyakinan pemerintah didasarkan pada strategi belanja efisien yang diklaim tidak akan mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi domestik.
“Yang penting begini, mereka (Bank Dunia dan IMF) tidak percaya itu anggaran kita bisa ditahan defisitnya di bawah 3 persen. Saya bilang dengan tegas bahwa itu atas arahan Presiden dan policy Presiden kita seperti itu. Dan kita tidak akan melanggar, dan kita punya cara untuk memastikan itu di bawah 3 persen tanpa mengganggu pertumbuhan ekonomi kita,” kata Purbaya, Menteri Keuangan.
Pernyataan tersebut ia sampaikan setelah menghadiri pertemuan dengan International Monetary Fund (IMF), Bank Dunia, dan investor global di Washington DC pada Selasa (14/4/2026). Purbaya merujuk pada capaian tahun 2025 di mana pemerintah berhasil mengendalikan angka defisit lebih rendah dari proyeksi pasar sebesar 3,4 hingga 3,5 persen.
“Buktinya di 2025 sebetulnya orang anggap anggaran kita bisa tembus 3,4 atau 3,5 persen. Tapi bisa kita kendalikan, di awal laporan kita turun ke 2,9 persen,” katanya.
Purbaya memproyeksikan tren penurunan defisit ini masih akan berlanjut seiring dengan perbaikan tata kelola anggaran. Pemerintah berencana mengumumkan angka resmi realisasi tersebut dalam waktu dekat kepada publik.
“Tapi angka yang sesungguhnya nanti kelihatannya di bawah 2,9 persen, mungkin di kisaran 2,8 persen, nanti akan diumumkan ke depan,” ujarnya.
Pengelolaan anggaran yang hemat namun produktif disebut menjadi kunci utama keberhasilan Indonesia dalam menjaga keseimbangan fiskal. Strategi ini diklaim menjadi model yang diunggulkan Indonesia dalam forum-forum ekonomi global.
“Jadi kita bisa me-manage budget dengan baik, cukup irit, pertumbuhannya tetap bagus. Jadi itu cara membelanjakan uang dengan efisien dan efektif,” ucapnya.
Kinerja belanja yang efektif ini menurut Purbaya membuat posisi Indonesia menonjol dibandingkan negara-negara lain di kawasan. Pemerintah mendorong agar pola belanja efisien ini dijadikan contoh dalam pertemuan bersama organisasi internasional.
“Ini yang harus dicontoh negara-negara lain. Kita juga bilang begitu ke IMF dan lain-lain, bahwa kita bisa belanja dengan efisien tapi tumbuhnya lebih cepat dibanding negara-negara di kawasan,” tuturnya.
Sisi pendapatan negara juga menunjukkan penguatan melalui reformasi pada sektor pajak serta bea dan cukai. Purbaya mencatat adanya pertumbuhan signifikan pada penerimaan negara di awal tahun 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Saya bilang tumbuh 30 persen di bulan pertama, atau tumbuh 20 persen di Januari–Februari tahun ini dibanding periode yang sama tahun yang lalu,” sebutnya.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·