Pemilik Ponpes di Kuningan Dapat Kado 'Istri Baru', 20 Tahun, dari Istri Pertama

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Wida Sayyidatul Anwar, istri di Kuningan memberikan kado ultah ke-40 suaminya istri kedua berusia 20 tahun. Foto: Dok. kumparan

Video prosesi pernikahan seorang pemilik pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, viral di media sosial.

Pernikahan itu bukan pernikahan biasa, di pelaminan tampak dua mempelai wanita duduk berdampingan bersama seorang mempelai pria.

Ternyata itu adalah pernikahan kedua sang pria. Dia mendapat kado 'istri kedua' dari istri pertamanya. Kado itu merupakan kado ulang tahun pernikahan ke-16 yang dicarikan sendiri oleh istri pertama.

Sosok istri pertama itu adalah Wida Sayyidatul Anwar. Wida menceritakan bahwa hadiah antimainstream ini bukanlah keputusan impulsif, melainkan sebuah rencana matang yang telah ia susun sejak tiga tahun lalu.

"Sebenarnya rencananya itu saya mengasih kado pada suami saya sudah dari tiga tahun ke belakang. Bersama jemaah saya berdiskusi dan meminta bantuan," tutur Wida membuka cerita, Selasa (9/6/2026).

Wida Sayyidatul Anwar, istri di Kuningan memberikan kado ultah ke-40 suaminya istri kedua berusia 20 tahun. Foto: Dok. Istimewa

Rencana Wida tidak langsung berjalan mulus. Saat pertama kali ide tersebut disinggung, sang suami sempat menolak mentah-mentah gagasan poligami itu.

Namun, Wida tidak menyerah dan memilih membawa keinginannya ke dalam doa.

"Awalnya dia menolak. Oh ya sudah, sambil saya nunggu dulu isyarah dari Allah bagaimana baiknya. Alhamdulillah, setahun ke belakang akhirnya saya nawarin lagi yang kedua kali," lanjutnya.

Pada tawaran kedua itulah sang suami akhirnya luluh, namun dengan syarat yang tidak biasa. Sang suami tidak ingin ikut campur dalam proses pencarian maupun penentuan kecocokan calon madunya.

"Akhirnya Akang acc, tapi dengan syarat silakan istrinya dicarikan dan diuruskan semuanya. Jadi Akang enggak mau milih, enggak mau tahu. Karena memang Umi yang mau ngasih, jadi semuanya harus beres sama Umi. Abi enggak tahu apa-apa karena Umi yang menginginkan," jelas Wida panjang lebar.

Pencarian Wida akhirnya berlabuh pada seorang gadis muda berusia 20 tahun. Momentum pernikahan ini digelar bertepatan dengan dua momen besar dalam kehidupan suaminya.

"Dan ini pas ulang tahunnya yang ke-40 dan anniversary pernikahan saya di usia 16 tahun pernikahan," jelas Wida.

Pengakuan Sang Suami dan Misteri "Serba Angka 6"

Sementara itu, sang suami, Dede Nadif Ar Rasyid, membeberkan cerita dari sudut pandangnya. Ia membenarkan bahwa mahar yang diberikan didasarkan pada tanggal kelahiran istri barunya, yang secara kebetulan selaras dengan usia pernikahan pertamanya.

"Kalau mahar itu kami enggak neko-neko ya, disesuaikan dengan tanggal lahir calon istrinya itu, yaitu kebetulan tanggal lahirnya tanggal 16. Jadi cuma perhiasan emas 16 gram, itu saja," kata Dede Nadif.

Wida Sayyidatul Anwar, istri di Kuningan memberikan kado ultah ke-40 suaminya istri kedua berusia 20 tahun. Foto: Dok. Istimewa

Dede mengaku takjub dengan bagaimana berbagai peristiwa dalam hidupnya seolah dipertemukan dengan angka 6 tanpa direncanakan sebelumnya.

"Jadi ya berhubung kado ulang tahun pernikahan saya sama Teteh itu ke-16, kebetulan Allah pertemukan dengan calon istri kedua yang tanggal lahirnya juga tanggal 16, dan kebetulan saya juga sudah mempunyai anak dari Teteh itu... eh, 6 maksud saya, 6 anak," papar Dede sambil meralat ucapannya.

Bahkan, pemilihan tanggal pernikahan pada tanggal cantik 6 Juni 2026 pun diakui Dede terjadi secara tidak sengaja karena keterbatasan waktu yang dimiliki pihak wedding organizer (WO).

"Terus ketika Teteh mencarikan WO, kebetulan dari WO-nya juga cuma menyediakan waktu yang tepat untuk dilaksanakan itu tanggal 6, bulan 6, tahun 2026. Kebetulan istri saya juga lahir tahun 2006, saya tahun 1986," tutur Dede.

Meski memicu perdebatan dan beragam reaksi dari warganet di media sosial, baik Dede Nadif maupun kedua istrinya dengan tegas menyatakan bahwa pernikahan ini berjalan atas dasar keikhlasan, keterbukaan, dan tanpa unsur paksaan dari pihak mana pun.