Sejumlah pemimpin negara Arab di Teluk dan Eropa mendesak Amerika Serikat serta Iran memperpanjang gencatan senjata selama enam bulan guna merampungkan kesepakatan damai. Sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz pada Jumat, 17 April 2026, langkah ini diambil untuk mencegah krisis pangan dan memulihkan stabilitas energi dunia.
Para pemimpin tersebut menuntut pembukaan jalur navigasi di Selat Hormuz segera dilakukan demi menjamin kembali lancarnya distribusi komoditas global. Berdasarkan informasi dari pejabat yang memahami situasi ini, penutupan jalur vital tersebut dikhawatirkan memicu kelangkaan pangan jika tidak segera diatasi pada bulan depan.
Ketegangan yang masih berlanjut berdampak langsung pada sektor ekonomi dengan lonjakan harga minyak mentah jenis Brent sebesar 4,5 persen hingga menembus angka di atas US$99 per barel. Meski gencatan senjata telah berlangsung sejak 8 April, harga minyak tetap bertahan 35 persen lebih tinggi dibandingkan periode sebelum konflik pecah.
Negara-negara di kawasan Teluk menekankan bahwa perjanjian damai harus mencakup pelarangan program rudal balistik jarak jauh serta pengayaan uranium Iran. Uni Emirat Arab (UEA) melalui kementerian luar negerinya secara konsisten menuntut pembukaan kembali akses Selat Hormuz tanpa syarat bagi perdagangan internasional.
Pemerintah UEA memberikan penegasan mengenai perlunya strategi menyeluruh dalam menangani berbagai ancaman keamanan. Hal ini mencakup pengawasan terhadap kapabilitas nuklir, penggunaan drone, hingga jaringan kelompok proksi yang berafiliasi dengan Teheran di wilayah Timur Tengah.
"Tidak akan ada kesepakatan antara AS dan Iran dalam jangka pendek. Optimisme Presiden Donald Trump lebih karena ia sadar akan implikasi pasar," ujar Rob Macaire, mantan duta besar Inggris untuk Iran.
Ia menyoroti bahwa tantangan terbesar saat ini adalah memastikan kemajuan diplomatik yang cukup untuk menghentikan risiko kembalinya konfrontasi bersenjata di kawasan tersebut secara permanen.
"Persoalannya bukan hanya apakah negosiasi akan berhasil, tapi apakah kemajuannya cukup untuk mencegah kembalinya konflik fisik," tambah Macaire kepada Bloomberg.
Macaire menilai adanya dorongan internal di Iran yang dapat memicu kembalinya serangan militer sehingga proses negosiasi ini menjadi sangat berisiko bagi semua pihak.
"Ini mungkin saja dilakukan, namun suara-suara di dalam Iran kemungkinan besar sudah gatal untuk kembali meluncurkan rudal. Ini adalah permainan yang berisiko tinggi," pungkas Macaire.
Saat ini, Washington dan Teheran sedang mengkaji kemungkinan perpanjangan gencatan senjata selama dua minggu setelah periode awal berakhir pada Selasa malam waktu Amerika Serikat. Upaya diplomasi ini juga beriringan dengan pengumuman jeda pertempuran selama sepuluh hari antara Israel dan Lebanon.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·