Seorang pemuda berusia 20 tahun ditangkap setelah melemparkan bom molotov ke kediaman CEO OpenAI, Sam Altman, di San Francisco pada Jumat (26/1/2026) dini hari waktu setempat. Insiden tersebut menyebabkan kebakaran kecil pada salah satu gerbang luar rumah Altman, seperti dilansir dari Detik iNET.
Departemen Kepolisian San Francisco (SFPD) melaporkan bahwa peristiwa ini terjadi sekitar pukul 04.00 pagi. Tersangka, setelah melempar bom, segera melarikan diri dengan berjalan kaki dari lokasi kejadian.
Setelah serangan di rumah Altman, tersangka yang sama diduga melanjutkan aksinya ke kantor pusat OpenAI. Di sana, ia dilaporkan mengancam akan membakar gedung perusahaan pengembang ChatGPT tersebut.
Juru bicara OpenAI membenarkan kejadian ini, menegaskan bahwa tidak ada korban luka akibat insiden tersebut. Pihak kepolisian masih belum merilis motif di balik serangan yang menargetkan salah satu tokoh kunci di industri teknologi.
Kantor OpenAI sebelumnya juga pernah menjadi sasaran ancaman. Pada November lalu, markas besar perusahaan sempat dikunci menyusul ancaman seorang pria yang menyatakan akan mendatangi kantor-kantor OpenAI di San Francisco untuk 'membunuh orang-orang'.
Selain itu, pengunjuk rasa juga sering menggelar demonstrasi di luar gedung OpenAI yang berlokasi di Mission Bay, San Francisco, sepanjang tahun ini.
Menanggapi serangan terbaru pada Jumat, juru bicara OpenAI menyampaikan apresiasi, "Kami sangat mengapresiasi respons cepat SFPD dan dukungan dari pemerintah kota dalam membantu menjaga keselamatan karyawan kami. Pelaku telah ditahan, dan kami sedang membantu pihak penegak hukum dalam penyelidikan mereka."
Sam Altman sendiri sempat mengungkapkan perasaannya melalui unggahan blog pribadinya. "Harapannya hal itu dapat mencegah orang lain melemparkan bom molotov ke rumah kami, terlepas dari apa pun pandangan mereka tentang saya," tulis Altman, yang turut membagikan foto suami dan bayinya, dikutip dari Detik iNET.
Altman juga menyinggung sebuah artikel provokatif tentang dirinya yang terbit beberapa hari sebelumnya. Artikel tersebut, yang kemungkinan merujuk pada tulisan panjang di New Yorker, mempertanyakan kredibilitas Altman.
"Sekarang saya terbangun di tengah malam dan merasa kesal, serta berpikir bahwa saya telah meremehkan kekuatan kata-kata dan narasi. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk membahas beberapa hal," ungkap Altman.
Dia menambahkan, "Saya adalah manusia yang penuh kekurangan di tengah situasi yang sangat kompleks, yang berusaha menjadi sedikit lebih baik setiap tahunnya, dan selalu bekerja demi misi kami." Penyelidikan atas kasus ini masih terus berlangsung oleh pihak berwenang.
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·