PENELITI Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin membeberkan pengamatan terkini yang menunjukkan pembentukan El Nino di permukaan laut Samudra Pasifik sejak 23 April 2026. Hal tersebut membuat suhu permukaan laut di kawasan itu meningkat hingga mencapai suhu terpanas dan anomali lebih dari 5 derajat Celcius di lapisan permukaan timur Pasifik serta tengah (sub-surface) ekuator.
Di saat bersamaan, kata Erma, aktivitas awan yang minim yang mulai terjadi di bagian tenggara Indonesia. “Ditandai dari anomali outgoing longwave radiation (OLR) berwarna merah, artinya anomali positif atau minim awan,” kata Erma dalam cuitannya di X pada Sabtu, 2 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Erma mewanti-wanti sekumpulan fenomena ini sebagai sinyal kemarau mulai konsisten terbentuk, khususnya di bagian tenggara Indonesia. Kemudian, prediksinya juga menunjukkan Super El Nino akan mulai terbentuk pada Juli dan semakin kuat hingga akhir tahun ini.
Meski di bagian tenggara Indonesia sinyal kemarau sudah terlihat, Erma menyebut kondisi serupa belum tentu terjadi di beberapa daerah, misalnya Jawa. Saat ini daratan Jawa masih mengalami hujan-hujan sporadis, tapi bukan berarti menggagalkan pembentukan El Nino. Hal tersebut justru disebabkan karena ketidakstabilan cuaca efek dinamika perairan selatan Jawa di Samudra Hindia.
Menurut Erma, dengan kondisi curah hujan yang masih datang ke daratan Jawa, masyarakat maupun pemerintah bisa memanfaatkan situasi itu untuk menampungnya sebagai cadangan air demi persiapan kemarau yang diprediksi bersifat lebih kering untuk tahun ini.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut mewaspadai musim kemarau tahun ini yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kepala BNPB Suharyanto mengatakan wilayah Sumatera dan Kalimantan menjadi daerah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla. “Kita tidak boleh lengah, seluruh unsur harus bergerak bersama sejak dini,” kata Suharyanto melalui keterangan tertulisnya pada Kamis, 16 April 2026.
Suharyanto mengatakan tindakan pencegahan merupakan kunci utama agar kebakaran tidak meluas dan berdampak bagi masyarakat. Ia menyebut BNPB telah mengerahkan pelbagai dukungan termasuk operasi udara melalui patroli dan water bombing, serta pelaksanaan operasi modifikasi cuaca sebagai salah satu pencegahan tersebut.
Dalam Konferensi Pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 pada Rabu, 4 Maret lalu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani juga menyatakan kemarau tahun ini lebih kering dan lebih panjang dari biasanya. Ia menekankan perlu mitigasi untuk menghadapi situasi tersebut.
“Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi,” ucap Faisal.
“BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (early warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (early action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” kata Faisal.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·