Jakarta (ANTARA) - Antropolog Indonesia Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto menilai gaya hidup konsumtif seperti nongkrong di tempat mahal hingga belanja impulsif menjadi jenis pengeluaran yang paling memungkinkan dikurangi ketika seseorang ingin menjalani gaya hidup hemat atau frugal living.
“Kalau kita mau hidup sederhana, frugal living, ya jelas gaya hidup yang gagasannya adalah konsumsi barang-barang tertier,” kata Semiarto ketika dihubungi oleh ANTARA pada Jumat.
Menurut Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia itu, pengeluaran yang berkaitan dengan kebutuhan tersier menjadi salah satu bagian yang paling mudah ditekan dalam pola konsumsi sehari-hari.
Baca juga: Frugal living vs pelit, ini perbedaannya
Baca juga: Tips terapkan gaya hidup frugal, bukan pelit tapi hemat
Ia mencontohkan kebiasaan nongkrong di mal, membeli kopi premium, hingga makan di tempat mahal sebagai pengeluaran yang dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
Ia mengatakan gaya hidup hemat bukan berarti tidak boleh menikmati hiburan atau konsumsi tertentu, tetapi lebih kepada kemampuan mengatur prioritas pengeluaran secara rasional.
“Kopi sekarang kisaran harganya dari Rp5.000 sampai di atas Rp100.000. Pilihannya itu aja. Hidup disesuaikan,” katanya.
Selain pengeluaran gaya hidup, Semiarto juga menyoroti kebiasaan impulse consumption atau konsumsi impulsif yang didorong faktor emosional dan tren media sosial.
“Ada diskon, buruan. Ada flash sale, ayo buruan. Atau sekadar FOMO (takut tertinggal tren) aja, si A, si B, si C sudah beli kok kita enggak,” ujarnya.
Baca juga: Hemat energi harus jadi gaya hidup
Ia mengatakan kebiasaan membeli barang karena dorongan tren maupun status sosial sering kali membuat konsumsi menjadi tidak esensial.
Menurut dia, fanatisme terhadap merek tertentu maupun kebiasaan mengganti gawai terlalu cepat juga menjadi pengeluaran yang dapat dikurangi.
“HP itu bisa tahan tiga sampai empat tahun, tapi karena setengah tahun sekali ada model baru, enggak perlulah kita ganti terus,” kata Semiarto.
Meski demikian, ia menilai terdapat sejumlah kebutuhan yang sebaiknya tidak ditekan secara berlebihan, seperti kesehatan, pendidikan, serta kebutuhan penunjang mobilitas dan akses internet.
“Yang susah dikurangi itu kesehatan dan pendidikan. Biasanya itu sudah prioritas,” ujarnya.
Semiarto menambahkan gaya hidup hemat pada dasarnya bukan sekadar mengurangi pengeluaran, melainkan mengonsumsi sesuatu secara lebih bijaksana dan sesuai kebutuhan.
Baca juga: Gaya hidup hemat kian diminati sebagai identitas sosial
Baca juga: Pilih "frugal" agar keuangan tidak ugal-ugalan
Baca juga: Mengambil jalan moderat dalam menerapkan pola hidup hemat
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·