Pengusaha: Kenaikan Harga Plastik Bisa Merembet Memicu PHK

Sedang Trending 1 jam yang lalu

KETUA Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menyatakan kenaikan harga plastik yang terus berlanjut tak hanya berisiko bagi pengusaha tapi juga tenaga kerja. Tak menutup kemungkinan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) khususnya di sektor padat karya bila harga plastik terus melonjak.

Shinta menyatakan kenaikan harga bahan baku plastik saat ini sudah melampaui pola fluktuasi normal. “Jika tekanan biaya ini berlanjut, risiko terhadap tenaga kerja menjadi nyata, meskipun dampaknya akan terlihat dalam beberapa tahap penyesuaian,” ucap Shinta Ketika dihubungi, Sabtu, 18 April 2026.

Ia menjelaskan pada tahap awal, dunia usaha akan melakukan langkah penyesuaian melalui efisiensi operasional, seperti penyesuaian jam kerja, pengurangan lembur, serta penundaan ekspansi dan rekrutmen. Namun, jika tekanan biaya terus meningkat, berkepanjangan dan tidak diimbangi dengan kebijakan yang mendukung, maka kemampuan dunia usaha akan semakin terbatas.

Dalam kondisi tersebut, risiko terhadap tenaga kerja akan meningkat. “Dalam situasi tekanan yang berkepanjangan, tidak menutup kemungkinan berujung pada pengurangan tenaga kerja, khususnya di sektor padat karya yang sangat bergantung pada kemasan plastik,” ucapnya.

Ketegangan geopolitik yang mengganggu rantai pasok energi menyebabkan harga plastik melambung. Sekitar 70 persen pasokan global nafta berasal dari Timur Tengah. Nafta adalah cairan hasil olahan minyak bumi yang berfungsi sebagai bahan baku utama dalam industri petrokimia untuk memproduksi plastik.

Kenaikan harga resin plastik memberikan tekanan langsung dan signifikan terhadap biaya operasional dunia usaha, khususnya sektor yang sangat bergantung pada kemasan seperti makanan dan minuman, FMCG, farmasi, logistik, dan retail.

Menurut Shinta, kenaikan harga bahan baku plastik sudah melampaui pola fluktuasi normal. Nafta naik hampir 45 persen. Hasilnya resin PET naik 60 persen. “Pabrik pemasok kemasan memangkas kapasitas produksi sekitar 20 sampai 30 persen. Harga kemasan naik bervariasi hingga 100 persen sampai 150 persen.

Dalam situasi ini, pelaku usaha berada pada posisi yang sangat menantang: di satu sisi harus menjaga harga tetap terjangkau bagi konsumen untuk mempertahankan daya beli masyarakat.

“Di sisi lain, tekanan kenaikan biaya terus meningkat secara signifikan. Bagi UMKM dan sektor dengan margin tipis, tekanan ini sudah mulai menggerus profitabilitas dan berpotensi mengganggu keberlanjutan usaha jika berlangsung dalam jangka panjang.”

Shinta menyatakan kondisi ini tidak hanya berdampak pada dunia usaha tetapi juga pada daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah tengah mencari berbagai alternatif negara pemasok bahan baku plastik untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri. Selama ini bahan baku utama biji plastik berupa nafta banyak dipasok dari kawasan Timur Tengah.

Namun, kondisi global membuat pengapalan menjadi lebih panjang dan kompetisi antarnegara untuk memperoleh bahan tersebut semakin ketat. "Jadi memang plastik itu, bahan bakunya untuk biji plastik itu kan selama ini, nafta itu dari Timur Tengah. Sekarang kita sudah dapat alternatif dari Afrika, India, dan Amerika," ujar Budi pada Kamis, 16 April 2026, seperti dikutip dari Antara.