Umat Muslim di seluruh Indonesia sering melantunkan doa qunut Subuh pada rakaat kedua setelah i'tidal. Perbedaan utama dalam doa ini terletak pada penggunaan kata ganti, yang disesuaikan dengan posisi orang yang membacanya, baik sebagai imam maupun individu. Perbedaan ini telah menjadi fokus perhatian sejak artikel aslinya terbit pada hari ini, 26 Oktober 2026.
Perbedaan paling mencolok terletak pada kata ganti dalam doa. Saat shalat sendirian, digunakan kata ganti tunggal, sedangkan saat menjadi imam, digunakan kata ganti jamak. Perbedaan ini mencakup kalimat istighfar di akhir doa, di mana imam menggunakan 'Nastaghfiruka' (Kami memohon ampun kepada-Mu) sedangkan individu menggunakan 'Astaghfiruka' (Aku memohon ampun kepada-Mu).
Struktur dasar doa qunut tetap sama. Bagian doa yang berisi pujian dan pengagungan kepada Allah tidak mengalami perubahan. Bagian ini tidak berkaitan dengan subjek (aku/kami), melainkan menjelaskan sifat-sifat Allah.
Perbedaan kecil dalam kata ganti ini memiliki makna yang besar. Dalam shalat berjamaah, imam mewakili seluruh makmum, sehingga bahasa yang digunakan harus mencerminkan kebersamaan. Sebaliknya, saat shalat sendirian, doa menjadi lebih personal dan langsung ditujukan untuk diri sendiri.
Dilansir dari Cahaya, memahami perbedaan ini membantu menjaga kesesuaian bacaan dengan konteks ibadah, sekaligus menambah kekhusyukan dalam shalat. Doa qunut Subuh, baik untuk imam maupun saat shalat sendirian, memiliki esensi yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada penggunaan kata ganti, yang disesuaikan dengan posisi orang yang membacanya.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·