Perkembangan satelit Low Earth Orbit (LEO) atau satelit orbit rendah dinilai membawa risiko baru terhadap stabilitas keamanan global apabila tidak diimbangi regulasi internasional yang memadai.
Satelit LEO di satu sisi membantu memperluas area konektivitas ke dunia internet, tetapi di sisi lainnya juga teknologi tersebut berpotensi memicu konflik geopolitik hingga militerisasi ruang angkasa.
Hal tersebut disampaikan Third Secretary Kedutaan Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Nikolay Perminov dalam forum diskusi bertajuk "The Uncontrolled Use of Low Earth Orbit (LEO) Satellites: The Political-Security Risks and Challenges" yang digelar Pusat Riset Politik BRIN di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Dalam pemaparannya, Nikolay menilai ruang angkasa kini tidak lagi sekadar menjadi wilayah kerja sama internasional, tetapi mulai berubah menjadi arena rivalitas geopolitik dan militer antarnegara.
Menurutnya, perkembangan teknologi satelit orbit rendah berlangsung sangat cepat, sementara regulasi global belum mampu mengimbangi laju inovasi tersebut.
"Tanpa regulasi global, ruang angkasa dapat menjadi sumber konflik baru di masa depan," ujarnya dikutip Jumat (22/5/2026).
Ia juga menyoroti dominasi perusahaan Barat, seperti SpaceX, Amazon, dan OneWeb dalam pengembangan satelit LEO dunia. Menurut Nikolay, muncul arsitektur baru konflik hibrida ketika perusahaan antariksa swasta mulai terintegrasi dengan kepentingan pertahanan dan militer.
"Perusahaan luar angkasa swasta kini menjadi bagian dari infrastruktur militer," katanya.
Selain isu geopolitik, Nikolay juga mengingatkan ancaman meningkatnya kepadatan satelit di orbit rendah bumi yang dapat memicu tabrakan antarsatelit dan memperbesar risiko sampah antariksa.
Ia turut menyoroti penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam sistem satelit otomatis yang dinilai berpotensi mengurangi kendali manusia dalam pengambilan keputusan militer.
Disampaikannya, Rusia bersama China telah mengusulkan perjanjian internasional di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mencegah penempatan senjata di luar angkasa.
Dalam kesempatan itu, Nikolay juga menyebut Indonesia memiliki posisi strategis dalam tata kelola ruang angkasa global karena letak geografis dan kekuatan ekonominya. Rusia disebut membuka peluang kerja sama dengan Indonesia dalam pengembangan teknologi satelit dan sistem navigasi independen.
Sementara itu, Peneliti Senior Pusat Riset Politik BRIN, Irine H. Gayatri menegaskan BRIN terus mendorong kajian terkait isu politik global, hubungan internasional, hingga perkembangan teknologi strategis seperti satelit orbit rendah.
Irine berpandangan bahwa perkembangan teknologi satelit LEO menghadirkan tantangan regulasi yang semakin kompleks dan membutuhkan perhatian serius di tingkat internasional.
Ia pun mengapresiasi partisipasi berbagai pihak dalam diskusi tersebut karena dinilai memperkaya pembahasan mengenai dampak teknologi satelit terhadap keamanan nasional, tata kelola global, serta stabilitas geopolitik dunia.
"Melalui dialog akademik dan diplomatik seperti ini, kita dapat lebih memahami bagaimana menyeimbangkan penerimaan terhadap kemajuan teknologi dengan kebutuhan menjaga keamanan nasional dan keamanan global," pungkasnya.
8 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·