Jakarta (ANTARA) - Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang sudah memasuki bulan ketiga masih belum berakhir, dan upaya deeskalasi setelah gencatan senjata yang terus diperpanjang sejak 7 April tak kunjung menunjukkan tanda-tanda keberhasilan.
AS dan Iran sebenarnya sudah menggelar putaran pertama negosiasi di Islamabad pada 11 hingga 12 April, tetapi belum mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Sejumlah isu hingga kini masih menjadi ganjalan, di antaranya terkait Selat Hormuz, blokade AS terhadap pelabuhan Iran, serta hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium.
Dalam perkembangannya, Iran pada 30 April telah menyerahkan, via Pakistan, usulan rencana perdamaian dengan AS yang terdiri dari 14 poin, serta mendorong agar kesepakatan segera dicapai agar Selat Hormuz dapat kembali terbuka.
Namun, Presiden AS Donald Trump pada Minggu (3/5) mengatakan bahwa usulan terbaru dari Iran yang sudah ia pelajari secara teliti tersebut “tak dapat diterima”.
Sementara AS dan Iran tak kunjung mencapai titik temu untuk mengakhiri perang, dampak ekonomi dari konflik tersebut tak berhenti merongrong negara-negara di dunia, tak terkecuali Indonesia.
Sejumlah negara telah mengambil langkah demi mengatasi dampak krisis energi, seperti pemerintah Belanda yang mengumumkan paket bantuan senilai hampir 1 miliar euro (sekitar Rp20,2 triliun) untuk meredam dampak kenaikan biaya energi bagi rumah tangga.
Kemudian di Asia, pemerintah Korea Selatan menyerukan pengurangan penggunaan energi, dan Malaysia mendorong warganya untuk bekerja dari rumah.
Blokade Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan jalur distribusi untuk 20 persen pasokan minyak mentah, produk minyak, dan LNG yang diproduksi negara-negara di Teluk Persia ke pasar global, yang membuat jalur lalu lintas laut tersebut bernilai sangat strategis.
Akan tetapi, karena alasan yang sama, jalur tersebut kini menjadi salah satu ganjalan terbesar dalam negosiasi AS-Iran, dengan kedua pihak berseteru saling berbeda visi soal Selat Hormuz ke depannya.
Meski kedua pihak sepakat melakukan gencatan senjata pada 7 April, Trump justru memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di jalur perairan tersebut sejak 13 April.
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa di tengah belum tercapainya kesepakatan damai, Iran sedang menciptakan “tatanan baru” di Selat Hormuz untuk menghilangkan “kejahatan” AS dan sekutunya.
“Keamanan lalu lintas pelayaran dan energi terancam oleh Amerika Serikat dan sekutunya melalui pelanggaran gencatan senjata dan blokade. Tetapi, kejahatan merekan akan berakhir,” kata dia.
Sementara itu, dalam upaya terbarunya membuka pelayaran, Presiden Trump pada Minggu (3/5) mengumumkan Project Freedom, yakni sebuah operasi membantu kapal-kapal yang terhambat di Selat Hormuz untuk keluar dari wilayah laut itu.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan dukungan militer AS untuk operasi tersebut mencakup kapal rudal perusak dengan pemandu, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, sistem nirawak multi-domain, serta 15.000 personel militer.
Operasi militer itu dimulai pada Senin pagi.
Selain itu, AS juga bergerilya menuntut kontribusi dari sekutu-sekutunya di Eropa untuk membantu “membebaskan” selat Hormuz, dengan sesumbar ancaman ditebarkan Trump kepada negara-negara yang ogah membantu.
Pada Kamis (30/4), Trump berkata mempertimbangkan pengurangan pasukan AS di Jerman, kemudian Spanyol, dan Italia karena menilai para sekutu Eropanya tidak membantu AS dalam operasi melawan Iran.
Sentimen yang sama juga sempat disampaikan Trump pada April lalu saat ia mengaku AS tak dapat lagi mengandalkan sekutunya dari Eropa, sehingga ia sangat mempertimbangkan menarik AS dari aliansi NATO.
Merespons tuntutan Trump, Jerman akhirnya setuju mengerahkan kapal penyapu ranjau “Fulda” ke Selat Hormuz untuk misi pengamanan maritim internasional.
Sebaliknya, Presiden Prancis Emmanuel Macron masih kukuh menolak terlibat dalam operasi militer AS di Selat Hormuz dengan dalih langkah tersebut “belum memiliki kejelasan”.
Baca juga: Korsel pertimbangkan tawaran Trump gabung operasi di Selat Hormuz
Baca juga: Spanyol menolak ikut operasi militer di Selat Hormuz
Kapal Iran lolos blokade
Meski dengan blokade yang diberlakukan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, Teheran dikabarkan masih dapat meloloskan kapal tanker miliknya keluar Selat Hormuz, yang bahkan bisa tetap berlayar sampai ke perairan Indonesia.
Menurut lembaga pemantau pergerakan kapal tanker TankerTrackers, kapal tanker raksasa (VLCC) milik Perusahaan Tanker Iran Nasional (NITC) berhasil menghindari Angkatan Laut AS dan mencapai perairan Indonesia.
Kapal raksasa yang teridentifikasi sebagai "HUGE" (9357183) tersebut membawa suplai minyak mentah senilai hampir 220 juta dolar AS (Rp3,81 triliun) terdeteksi bergerak melalui Selat Lombok di Indonesia menuju Kepulauan Riau.
Pada Senin (4/5), lembaga yang sama mengumumkan adanya kapal tanker raksasa asal Iran kedua memasuki Selat Lombok dengan membawa minyak mentah asal Iran.
“Kapal tanker kedua bernama ‘DERYA’ (9569700) sedang melakukan hal yang sama,” ungkap TankerTrackers di media sosial X.
Mereka menjelaskan bahwa kapal tersebut awalnya berupaya mengantar 1,88 juta barel minyak ke India pada pertengahan April tetapi urung dilakukan. Kapal tersebut kemudian terdeteksi berlayar ke arah selatan dari India.
TankerTrackers mengatakan, setelah memasuki perairan Indonesia, kapal “DERYA” juga berlayar menuju Kepulauan Riau.
Publik AS jenuh
Sementara itu di dalam negeri Paman Sam, masyarakat AS dinilai semakin jenuh dengan konflik yang berlarut-larut dengan Iran, sehingga berpotensi menjadi beban politik bagi Presiden Trump, terlebih di tengah menurunnya dukungan publik.
Pakar Amerika Serikat dari Universitas Indonesia, Suzie Sudarman, mengatakan Trump masih dapat mempertimbangkan opsi serangan baru ke Iran di tengah kebuntuan dalam negosiasi.
“AS bisa saja menyerang Iran, tetapi yang menanggung biaya (perang) tentu rakyatnya, yang sudah jenuh dengan perilaku Donald Trump,” kata Suzie.
Ketua Pusat Studi Amerika di UI itu menjelaskan bahwa dalam berbagai skenario serangan baru yang dimiliki Trump, Iran masih memiliki peluang besar untuk melakukan perlawanan dan bahkan mengungguli AS, terutama jika mendapat dukungan dari China dan Rusia.
Dalam kondisi tersebut, Trump dinilai tidak lagi dapat memanfaatkan perang sebagai alat untuk menggalang dukungan publik. Bahkan, basis pendukung utamanya dalam kelompok Make America Great Again (MAGA) disebut mulai terbelah dan tidak sepenuhnya mendukung perang.
Namun demikian, Suzie menilai Trump masih dapat mengandalkan dukungan anggota Kongres AS dari Partai Republik untuk tidak menghalangi langkahnya melanjutkan perang dengan Iran.
Dinamika yang terjadi di Selat Hormuz menunjukkan perang antara AS-Israel dan Iran belum akan berakhir dalam waktu dekat. Terlebih, masih belum ada tanda-tanda babak kedua perundingan akan digelar.
Pada saat yang sama ketika Trump menunjukkan rasa frustrasi karena belum mendapat “exit strategy” yang tepat di Selat Hormuz, Iran seperti terus menunjukkan dirinya siap “bermain lama” dalam menghadapi ancaman baru dari AS.
Baca juga: Dari Hormuz ke Malaka, aneksasi kuasa di jalur sempit dunia
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·