Pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang berlangsung intensif di Pakistan pada Minggu (12/4/2026) tidak berhasil menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa perundingan maraton yang telah berlangsung selama 21 jam tersebut tidak membawa hasil signifikan, meskipun terjadi diskusi substantif dengan pihak Iran.
Vance mengungkapkan informasi ini dalam sebuah konferensi pers di Islamabad, Pakistan. Menurutnya, kegagalan mencapai kesepakatan ini merupakan 'kabar buruk' bagi Iran, bahkan lebih besar daripada bagi Amerika Serikat. "Kami kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan," kata Vance, dilansir dari Detikcom.
Dari sisi Iran, Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei, mengonfirmasi bahwa perundingan tersebut memang berlangsung intensif. Namun, Baqaei menekankan bahwa keberhasilan negosiasi selanjutnya akan sangat bergantung pada 'keseriusan dan itikad baik dari pihak lawan'.
Baqaei juga mendesak Washington untuk menghindari 'tuntutan yang berlebihan dan permintaan yang melanggar hukum'. Iran menuntut agar AS mengakui 'hak dan kepentingan sah' Teheran dalam perundingan tersebut. Beberapa topik krusial yang dibahas mencakup isu Selat Hormuz, program nuklir Iran, dan tuntutan pengakhiran total perang di Iran.
Sebagai konteks, perang antara AS dan Israel dengan Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Agresi tersebut menyebabkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei. Iran segera membalas serangan tersebut dengan melancarkan serangan terhadap Israel serta fasilitas milik AS yang berada di berbagai negara Teluk.
Konflik berkepanjangan ini telah menelan korban jiwa yang signifikan. Data menunjukkan bahwa di Iran, sebanyak 2.076 orang tewas dan 26.500 orang terluka akibat perang. Sementara itu, serangan balasan Iran dilaporkan telah menewaskan 26 orang dan melukai 7.451 orang di Israel.
Tidak hanya itu, pasukan Amerika Serikat juga menjadi korban dalam serangan balasan Iran. Sebanyak 13 tentara AS dilaporkan tewas, dan 200 tentara lainnya mengalami luka-luka akibat serangan-serangan tersebut. Gagalnya perundingan ini menandakan bahwa upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan dan mengakhiri konflik masih belum membuahkan hasil, meninggalkan situasi yang tidak menentu di kawasan tersebut.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·