PM Italia Giorgia Meloni Tanggapi Pelecehan Foto Rekayasa Deepfake AI

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menjadi sasaran pelecehan digital melalui penyebaran foto rekayasa kecerdasan buatan (AI) di media sosial pada Sabtu (14/5/2026). Meloni merespons serangan tersebut dengan memperingatkan masyarakat mengenai bahaya teknologi manipulasi visual yang dapat merugikan martabat seseorang.

Penyebaran konten palsu ini bermula dari unggahan sebuah akun di Facebook yang memperlihatkan pemimpin Italia tersebut dalam pakaian minim. Dilansir dari Detik iNET, narasi yang menyertai unggahan tersebut bertujuan menyudutkan etika Meloni sebagai pejabat publik di mata masyarakat luas.

"Seorang perdana menteri tampil seperti ini sungguh memalukan, tidak layak dengan jabatan publik yang dia pegang. Tapi dia nggak tahu malu," kata Roberto, pemilik akun yang diduga palsu tersebut.

Menanggapi serangan itu, Meloni memberikan sindiran melalui akun resminya di platform X sembari menekankan risiko penyalahgunaan AI. Ia menegaskan bahwa teknologi deepfake merupakan instrumen berbahaya yang kerap digunakan untuk memanipulasi serta menyerang individu secara personal.

"Foto deepfake bikin saya terlihat lebih baik," sindir Meloni.

Ketua Dewan Menteri Italia ini menyoroti bagaimana pihak-pihak tertentu memanfaatkan teknologi untuk menyerang figur publik karena dorongan kecemburuan. Ia menyatakan kekhawatirannya terhadap masyarakat yang tidak memiliki kemampuan atau sumber daya untuk membela diri dari serangan serupa.

"Deepfake adalah alat yang berbahaya karena bisa menipu, memanipulasi dan menyerang orang. Saya bisa membela diri, banyak yang tidak bisa melakukan itu," kata Meloni.

Insiden ini bukan kali pertama dialami oleh Meloni, setelah sebelumnya video bermuatan pornografi yang merekayasa wajahnya muncul di situs asal Amerika Serikat pada tahun lalu. Menanggapi kasus tersebut, ia telah menempuh jalur hukum dengan mengajukan tuntutan ganti rugi materiil senilai € 100.000 atau setara Rp 20,5 miliar.

Dana hasil tuntutan tersebut rencananya akan disumbangkan sepenuhnya untuk membantu para korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Italia. Hingga saat ini, proses hukum terkait kasus video rekayasa tersebut masih terus berjalan di pengadilan setempat.

Meloni mengingatkan publik untuk selalu melakukan verifikasi terhadap setiap informasi visual yang beredar di ruang siber. Menurutnya, kerentanan terhadap serangan deepfake bisa menimpa siapa saja tanpa terkecuali jika masyarakat tidak waspada dalam mengonsumsi konten digital.

"Cek dulu sebelum percaya, percaya dulu sebelum share. Hari ini kejadian pada saya, besok bisa jadi siapa saja," pungkas Meloni.