Korlantas Polri telah merampungkan pelaksanaan Traffic Accident Analysis (TAA) atau analisis kecelakaan lalu lintas di lokasi tabrakan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur yang terjadi pada Senin (27/4) malam lalu. Proses ini dilakukan untuk mengungkap secara rinci kronologi insiden yang menewaskan 16 orang tersebut.
Kasi Pullahjianta Subdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri, Kompol Sandhi Wiedyanoe, mengatakan timnya telah melakukan serangkaian pemindaian di tempat kejadian perkara (TKP).
“Korlantas telah melaksanakan TAA di TKP,” kata Sandhi saat dihubungi, Rabu (29/4).
Ia menjelaskan, TAA dilakukan dengan memindai lingkungan sekitar lokasi kejadian, termasuk barang bukti berupa taksi dan rangkaian kereta.
“TAA dilakukan dengan cara scanning lingkungan di TKP, scanning BB (barang bukti) taksi, serta scanning kereta api yang bertujuan untuk mengilustrasikan kejadian laka pada saat sebelum, ketika, serta pasca-kecelakaan. Hal ini bertujuan untuk membuat terang suatu perkara pidana dan menentukan strategi penyidikan lebih lanjut,” jelas dia.
Sandhi menambahkan, metode TAA yang digunakan merupakan pendekatan berbasis teknologi yang memungkinkan penyidik melihat peristiwa secara menyeluruh.
“Jadi kami dari Korlantas menurunkan tim TAA atau Traffic Accident Analysis. Adalah sebuah metode penyidikan berbasis teknologi yang digunakan oleh Polri dalam rangka melihat secara empat dimensi terkait dengan kejadian sebelum, pada saat, dan setelah kecelakaan itu terjadi,” ujarnya.
Ia menyebut, teknologi yang digunakan dalam TAA juga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu penyidik dalam merekonstruksi kejadian.
“Jadi ilustrasi berbasis Artificial Intelligence atau AI yang kami gunakan untuk memudahkan penyidik laka lantas Polri dalam rangka membuat sebuah perkara kejahatan kecelakaan lalu lintas semakin terang benderang, semakin jelas, sehingga mampu memberikan strategi yang cukup tepat untuk disajikan kepada Criminal Justice System, untuk disajikan kepada jaksa penuntut maupun kepada hakim,” lanjut Sandhi.
Dari sisi teknis, kata dia, terdapat dua jenis teknologi utama yang digunakan dalam proses analisis tersebut.
“Secara teknis TAA ini kami ada dua teknologi yang kami gunakan. Yang pertama adalah teknologi statis dengan kamera LiDAR serta kamera 360 derajat di mana mampu mendeteksi environment ataupun lingkungan secara menyeluruh, serta teknologi drone, teknologi portable yang mampu melihat melalui pola helicopter view,” jelasnya.
“Jadi melihat dari secara menyeluruh terkait dengan lingkungan sekitar TKP, kemudian jejak-jejak kecelakaan, bahkan barang bukti akibat dari proses kejadian kecelakaan,” imbuh dia.
Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam menewaskan 16 orang dan melukai puluhan penumpang.
Peristiwa itu bermula dari sebuah taksi yang mogok di perlintasan sebidang di kawasan Ampera, Bekasi Timur, akibat gangguan listrik. Taksi tersebut kemudian tertabrak KRL arah Jakarta.
Dampaknya, satu rangkaian KRL tujuan Cikarang terhenti di Stasiun Bekasi Timur. Dalam kondisi tersebut, rangkaian KRL itu kemudian ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak akan dilakukan di kantor PT KAI.
“Untuk agenda riksa petugas, masinis, petugas stasiun, polsuska dari PT. KAI akan dilaksanakan di kantor PT. KAI, akan dilaksanakan besok hari kamis tanggal 30 april 2026,” kata Budi.
Ia juga menyebut sopir taksi yang terlibat dalam rangkaian peristiwa tersebut telah dimintai keterangan oleh polisi.
“Untuk driver taksi online diminta keterangan kemarin Selasa dan hari ini Rabu di Polrestro Bekasi Kota,” ujar dia.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·