Polisi Periksa 31 Saksi di Kasus Kecelakaan Kereta Bekasi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

KEPOLISIAN masih melanjutkan proses hukum kasus kecelakaan kereta antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Insiden yang menyebabkan belasan korban jiwa itu terjadi pada Senin, 27 April 2026 sekitar pukul 20.57 WIB.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto mengatakan, sudah ada puluhan saksi yang diperiksa dalam kasus ini. "Penyidik telah meminta keterangan terhadap 31 orang," ujar Budi, pada Ahad, 3 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Beberapa pihak yang telah diperiksa antara lain adalah para korban, pengemudi taksi Green SM, serta penjaga palang perlintasan. Kemudian ada juga masinis KA Argo Bromo Anggrek, masinis KRL, dan petugas operasional KAI. 

Kepolisian rencananya juga akan memanggil perwakilan dari Dinas Tata Ruang dan Dinas Pekerjaan Umum. Polisi juga telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap pihak Direktorat Jenderal Perkeretaapian. 

Insiden ini diketahui berawal dari sebuah taksi Green SM yang mengalami korsleting listrik di tengah perlintasan kereta, tidak jauh dari Stasiun Bekasi Timur. "Terjadilah tabrakan yang melibatkan kereta api dengan kendaraan tersebut," ujar Kepala Seksi Kumpul, Olah, dan Kaji Data Kecelakaan Lalu Lintas Polri, Komisaris Sandhi Wiedyanoe. 

Akibat insiden itu, perjalanan kereta jurusan Kampung Bandan-Cikarang tertahan di Stasiun Bekasi Timur. Naas di saat bersamaan, melaju KA Argo Bromo Anggrek dari arah belakang di jalur yang sama. "Kecepatan 110 kilometer per jam," kata Sandhi. 

Badan kereta KA Argo Bromo ketika itu bahkan menembus badan KRL hingga membuat gerbong khusus wanita di kereta itu terbelah. Puluhan penumpang yang berada di dalamnya menjadi korban akibat terhimpit badan kereta KA Argo Bromo Anggrek. 

Salah satu penumpang kereta yang selamat, Shofiyatun bercerita, sebelum tabrakan terjadi listrik di gerbong kereta sempat mati. "Lalu ada bunyi kencang, kereta kami dihantam dari belakang," ucap Shofiyatun, pada Selasa, 28 April 2026. 

Menurut Shofiyatun, hantaman itu terjadi di gerbong bagian belakang. Namun getarannya tetap terasa hingga ke gerbong bagian tengah tempat ia, anak, dan ibunya berada. "Anak saya juga sempat terlempar," tutur Shofiyatun.

Kecelakaan itu membuat 16 penumpang KRL tewas. Seluruh korban merupakan perempuan yang berada di dalam gerbong khusus wanita. Sementara itu, seluruh penumpang KA Argo Bromo Anggrek selamat tanpa luka berarti.