Polri dan Grab Integrasikan Layanan Darurat 110 dalam Aplikasi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Kepolisian Negara Republik Indonesia resmi mengintegrasikan layanan darurat nomor 110 ke dalam aplikasi Grab untuk meningkatkan respons keselamatan masyarakat pada Jumat, 24 April 2026. Kolaborasi ini menjadikan Grab sebagai platform on-demand pertama yang terhubung langsung dengan sistem kepolisian guna memberikan perlindungan lebih dekat bagi pengguna.

Integrasi sistem ini nantinya akan terhubung dengan Super App Polri yang saat ini masih dalam tahap pengembangan lebih lanjut. Selain layanan darurat, aplikasi tersebut diproyeksikan mempermudah akses masyarakat terhadap layanan administrasi seperti laporan kehilangan, pembuatan SIM, STNK, hingga SKCK sebagaimana dilaporkan tribratakutim.com.

Peresmian sinergi digital ini dihadiri langsung oleh Wakapolri, Komjen Pol Dedi Prasetyo. Langkah strategis ini diambil untuk memastikan kehadiran layanan keamanan yang lebih responsif dan modern di dalam ekosistem transportasi daring.

Di tingkat daerah, penguatan sistem keamanan juga dilakukan melalui pelatihan Top Ranger atau Transportasi Online Peduli Penanganan Bencana Terintegrasi di Kota Kupang pada 23 April 2026. Program ini merupakan inisiatif BPBD Kota Kupang bersama SIAP SIAGA dan Grab untuk melatih pengemudi sebagai penolong pertama saat krisis.

“Melibatkan rekan-rekan pengemudi Grab sebagai respons pertama di lapangan adalah sebuah terobosan strategis. Dalam situasi darurat, kecepatan respons pada menit-menit pertama seringkali menjadi faktor penentu keselamatan jiwa,” ujar Yiyik Putri, Assistant Program Manager pada The Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT).

Yiyik menambahkan bahwa Pemerintah Australia mengapresiasi inovasi ini dalam memperkuat kesiapsiagaan berbasis masyarakat dengan memastikan keterlibatan kelompok rentan.

“Ketangguhan tidak hanya tentang sistem komunikasi atau evakuasi saja, tetapi juga memastikan kelompok paling rentan seperti penyandang disabilitas dan lansia dapat dilibatkan dan dilayani dengan lebih baik pada saat krisis,” ujarnya.

Team Leader SIAP SIAGA, Lucy Dickinson, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak atau skema pentahelix dalam menghadapi tantangan bencana di wilayah perkotaan.

“Menghadapi tantangan bencana di Kota Kupang, pemerintah tentu tidak bisa bekerja sendirian. Kehadiran transportasi daring seperti Grab merupakan bukti nyata kontribusi sektor swasta sebagai pilar pentahelix,” tegas Lucy.

Ia menilai para pengemudi memiliki peran krusial sebagai bagian dari sistem respons awal kota melalui inisiatif Top Ranger tersebut.

“Transportasi daring seperti Grab menunjukkan bahwa sektor swasta dapat menjadi bagian penting dalam skema pentahelix. Ini bukan sekadar dukungan, tetapi kontribusi nyata dalam sistem respon awal,” ujarnya dilansir dari selatanindonesia.com.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Kupang, Ernest S. Ludji, menjelaskan bahwa mobilitas pengemudi selama 24 jam menjadikannya aset penting untuk mendeteksi kejadian di lapangan secara cepat.

“Grab adalah pihak yang terlebih dahulu mendeteksi ketika ada kejadian di lapangan. Karena itu keterlibatan mereka dalam simulasi ini sangat penting agar kita memahami bersama peran masing-masing di menit-menit kritis,” kata Ernest.

Ernest menambahkan bahwa pengemudi yang tersebar di berbagai titik kota dapat melakukan tindakan awal yang tepat sebelum petugas resmi tiba di lokasi.

“Sering kali, mereka yang pertama mengetahui adanya kejadian. Dengan pelatihan ini, mereka tidak hanya melaporkan, tetapi juga dapat melakukan tindakan awal yang tepat,” kata Ernest.

Pelatihan ini diikuti oleh 15 pengemudi Grab dan anggota PERTUNI yang mendapatkan materi Resusitasi Jantung Paru (RJP), teknik pemindahan darurat, hingga penggunaan aplikasi Lapor Cepat. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesiapsiagaan Nasional 2026 di Provinsi NTT.