Seorang prajurit United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) asal Serbia, Sersan Senior Milovan Jovanovic, gugur akibat sebuah serangan mortir yang terjadi di pangkalan tempatnya bertugas.
Dilansir AFP, serangan ini terjadi pada Rabu (3/6) lalu. Ada dua prajurit UNIFIL lain asal Spanyol dan El Savador yang juga mengalami luka akibat serangan ini.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, mengutuk serangan tersebut. Ia juga meminta agar pelakunya bisa diadili.
"Sekretaris Jenderal sekali lagi mendesak semua pihak untuk menghormati penghentian permusuhan yang diumumkan pada 16 April 2026," kata Stephane Dujarric, Kamis (4/6).
Gugurnya pasukan perdamaian asal Serbia ini menambah daftar panjang korban tewas dari UNIFIL dalam konflik yang terjadi. Sejauh ini, sudah ada 7 prajurit UNIFIL yang gugur, 4 di antaranya berasal dari Indonesia.
Kekerasan di Lebanon selatan terjadi di tengah serangan Hizbullah terhadap Israel sebagai balasan atas serangan gabungan Israel-Amerika terhadap Iran pada akhir Februari.
"Semua serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian harus segera diselidiki, dan mereka yang bertanggung jawab harus dituntut secara efektif dan dimintai pertanggungjawaban," kata Dujarric. Ia menambahkan, UNIFIL telah meluncurkan penyelidikan sendiri atas kejadian ini.
Berdasarkan pengamatan awal, "kami memahami bahwa posisi tersebut terkena tembakan tidak langsung dari utara Sungai Litani," tambahnya.
Tentara Israel menuduh Hizbullah berada di balik serangan pada Rabu malam di Ibl al-Saqi.
Sementara, pemimpin Hizbollah, Naim Qassem, pada Kamis menuntut penarikan Israel dari Lebanon. Sementara seorang pejabat dari kelompoknya mengkonfirmasi bahwa mereka menolak gencatan senjata yang diumumkan setelah pembicaraan antara kedua negara di Washington.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·