Sejumlah pilot perempuan muda dari Garuda Indonesia dan TNI Angkatan Udara dipercaya mengawal penerbangan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto. Kepastian penugasan para penerbang tangguh tersebut diungkapkan oleh Asisten Khusus Presiden, Dirgayuza Setiawan, pada Selasa (26/5/2026).
Langkah ini selaras dengan komitmen Kepala Negara untuk memberikan ruang bagi generasi muda berprestasi tanpa memandang batasan usia. Kepedulian Presiden terhadap bakat-bakat unggul tersebut diwujudkan melalui berbagai inisiatif pendidikan kepemimpinan sejak dekade sebelumnya.
"Semakin lama saya ikut Presiden Prabowo, semakin banyak saya mengenal para outliers. Mungkin karena Presiden selalu ingatkan, 'kita harus terus temukan, beri kesempatan, dan apresiasi orang-orang terbaik, cinta merah putih, berapapun usianya'," tulis Dirgayuza, dalam keterangan di akun Instagramnya, Selasa (26/5/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan perhatian besar Kepala Negara terhadap pencapaian pemuda, yang mendasari pendirian SMA Taruna Nusantara, SMA Unggul Garuda, hingga Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD). Catatan tersebut juga membagikan rekam jejak para pilot perempuan yang berhasil menembus profesi yang didominasi pria.
Salah satu sosok menonjol adalah Captain Tania Citra, penerbang Boeing 777 Garuda Indonesia yang memimpin penerbangan Prabowo ke Prancis pada Selasa (26/5) pukul 00.08 WIB, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
"Tania jadi pilot perempuan pertama Garuda Indonesia yang menerbangkan Presiden yang sedang menjabat," ujarnya.
Perempuan berusia 31 tahun itu sebelumnya memecahkan rekor sebagai penerbang Boeing 777 termuda di dunia pada usia 29 tahun dan kini aktif sebagai instruktur. Penugasan lainnya melibatkan Captain Ajeng Mahessa dari Skadron Udara 17 TNI AU, yang menerbangkan Boeing 737 kepresidenan pada usia 30 tahun.
"Ia juga seorang Paskibraka Nasional di tahun 2011," ujarnya.
Selanjutnya, misi kemanusiaan dan pendaratan di landasan pendek dipercayakan kepada Captain Yustikasari Diana Putri dari Skadron Udara 2 TNI AU saat ia berusia 27 tahun. Sektor logistik diperkuat oleh Captain Gini Setya Rahayu dari Skadron Udara 31, penerbang Hercules C-130 berusia 24 tahun yang terlibat dalam rehabilitasi Sumatera.
"Saya menulis dan membagikan catatan ini karena saya merasa kisah para outliers seperti Capt. Tania, Capt. Ajeng, Capt. Tika dan Capt. Gini harus lebih banyak diceritakan di ruang kelas dan ruang media," katanya.
Melalui publikasi kisah ini, diharapkan generasi muda perempuan Indonesia terinspirasi untuk menekuni bidang profesi yang menantang dan berani bermimpi tinggi.
"Di balik sukses mereka, ada ribuan jam belajar, bekerja dan mengumpulkan tekad agar bisa, secara literal, melawan hukum gravitasi dan berhasil terbang tinggi di langit Nusantara dan dunia. Berhasil di dunia yang mayoritas pikir reserved untuk laki-laki saja," ujarnya.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui figur-figur berprestasi ini dinilai krusial bagi masa depan bangsa agar dapat mencetak kader unggul baru di berbagai sektor vital.
"Untuk maju, Indonesia butuh outliers seperti mereka tidak hanya berhasil dalam tugas utama mereka, tapi juga berhasil menumbuhkan harapan, membangun cita cita dan mencetak ribuan outliers lainnya di berbagai bidang," lanjut Dirgayuza.
54 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·