Arah perjalanan bangsa yang dinilai keliru menjadi alasan utama Presiden Prabowo Subianto bertekad memimpin Indonesia. Keinginan kuat tersebut diakuinya telah muncul sejak era 1990-an.
Seperti dikutip dari Detikcom, kegelisahan mengenai kondisi nasional itu disampaikan dalam sambutan acara Musyawarah Nasional (Munas) ke-XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Lampung pada Rabu (10/6/2026).
"Kenapa saya ingin jadi Presiden. Saya ingin jadi Presiden karena saya sudah lihat kalau tahun '90-an Indonesia menuju arah yang salah, saya sudah lihat," kata Prabowo.
Ketua Umum Partai Gerindra tersebut menegaskan bahwa keputusannya maju sebagai pemimpin nasional bukan demi mengejar kekuasaan semata. Kekhawatiran mendalam terhadap masa depan negara menjadi penggerak utamanya.
"Saya bukan mau jadi Presiden hanya untuk jadi Presiden, lu kira enak," ujarnya.
Mantan Menteri Pertahanan ini juga menyoroti tantangan terbesar dalam memimpin negara, yang menurutnya justru bersumber dari dinamika elite politik sendiri. Ia menilai ketegangan lebih sering terjadi di tingkat atas.
"Karena kadang-kadang, masyarakat elite kita ini, elite yang memang kejam, elite kita ini ya. Tapi hampir semua elite bangsa seperti kita ribut terus, elitenya ribut, rakyat tidak," ujar Prabowo.
Sebaliknya, kepala negara memuji sikap masyarakat luas yang dinilai jauh lebih dewasa. Warga dinilai lebih mendambakan suasana kondusif dan kerja sama yang solid.
"Rakyat paling ngerti untuk dapat hidup yang baik harus ada kerukunan, harus ada paguyuban, harus ada kerja sama, harus ada saling mengisi, bukan saling menghantam," ujarnya.
5 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·