Pria Berusia 22 Tahun Tewas Ditembak di Toulouse

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Seorang pria berusia 22 tahun tewas setelah ditembak berkali-kali oleh pelaku yang melarikan diri di kawasan Izards, Toulouse, Prancis, pada Sabtu malam, 2 Mei 2026, sekitar pukul 23.00 waktu setempat.

Korban ditemukan tergeletak di persimpangan Chemin des Izards dan Rue des Chamois, tepat di depan Gedung Hukum dan Keadilan, dengan luka tembak dari senjata genggam. Meski petugas pemadam kebakaran dari SDIS 31 dan tim medis Samu telah tiba di lokasi, nyawa pemuda tersebut tidak dapat diselamatkan dan ia dinyatakan meninggal di tempat kejadian.

Jaksa Penuntut Umum Toulouse, David Charmatz, mengonfirmasi bahwa pihak kepolisian telah mendatangi lokasi yang dikenal sebagai titik transaksi terlarang setelah menerima laporan empat tembakan. Charmatz menyebutkan bahwa korban, yang diyakini berasal dari Mostaganem, Aljazair, diduga memiliki peran dalam aktivitas di lokasi tersebut.

"Un rôle dans le point de deal" kata David Charmatz, Jaksa Penuntut Umum Toulouse.

Pihak kejaksaan kini telah membuka penyelidikan resmi atas dugaan pembunuhan berencana atau asasinasi. Autopsi jenazah korban dijadwalkan akan dilakukan pada hari Senin untuk mendalami penyebab pasti kematian.

Dilansir dari laporan Ladepeche.fr, suasana di Place Micoulaud tampak tenang pada Minggu pagi meskipun noda merah bekas darah masih terlihat di aspal. Para penduduk setempat memberikan kesaksian yang beragam mengenai situasi keamanan di wilayah mereka yang sering dikaitkan dengan aktivitas ilegal.

"Comme beaucoup, on a vu l’article de La Dépêche. Mais les gens n’en parlent pas particulièrement" ujar seorang karyawan toko tembakau setempat.

Meskipun beberapa warga merasa kawasan tersebut relatif tenang belakangan ini, kekhawatiran akan terjadinya kekerasan susulan tetap dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di blok-blok apartemen sekitar lokasi.

"C’est fou, parce que c’est quand même assez calme ici en ce moment." kata karyawan tersebut menambahkan konteks situasi terkini.

Seorang penjual di toko roti yang berada tepat di depan lokasi kejadian mengaku mengetahui berita tersebut dari pelanggan yang memperingatkannya untuk berhati-hati. Ia mengenang pengalaman masa lalu saat melihat kekerasan fisik terjadi secara langsung di depan matanya.

"Ils m’ont dit de faire attention, que quand les mecs tirent, on peut tous prendre une balle" pungkas seorang penjual roti.

Warga lain menyatakan bahwa meskipun mereka tidak merasa terancam secara langsung setiap hari, mereka tetap waspada karena kekerasan dapat pecah sewaktu-waktu. Hal ini membuat sebagian orang tua melarang anak-anak mereka bermain sendirian di area lapangan.

"Les dealers ? Ils sont là, tout le temps !" cetus seorang warga wanita di alun-alun sebelum memberikan kualifikasi tambahan.

Kawasan Izards sendiri memiliki sejarah panjang terkait perselisihan antar kelompok, termasuk rentetan penembakan pada tahun 2020 yang memicu pengerahan ratusan personel polisi tambahan. Namun, laporan lokal menunjukkan bahwa pola distribusi aktivitas ilegal di wilayah tersebut telah bergeser dan tidak lagi mendominasi seluruh ruang publik seperti sebelumnya.

"Mais le quartier reste assez calme." ujar warga tersebut menyeimbangkan pernyataannya.

Seorang ibu rumah tangga di lingkungan itu menegaskan bahwa ada perasaan waswas yang menetap di benak para penghuni. Ketakutan akan terjadinya peristiwa serupa di masa depan menjadi bayang-bayang bagi komunitas tersebut.

"On ne se sent pas en insécurité" tegas seorang ibu rumah tangga yang tinggal di wilayah tersebut.

Ia tetap membatasi ruang gerak keluarganya sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi bahaya yang tidak terduga.

"Mais on sait que tout peut survenir à tout moment, que ça peut recommencer." lanjut ibu tersebut menjelaskan alasannya.

Seorang warga bernama Lucie, yang telah menetap selama satu tahun, menghubungkan tragedi ini dengan aktivitas peredaran zat terlarang yang masih ada di lingkungan tersebut. Keyakinan serupa disampaikan oleh penghuni lain yang merasa kejadian ini bukanlah yang terakhir.

"Quand il se passe un drame ici, on devine très vite que c’est lié au stup." jelas Lucie.

Pandangan pesimistis juga diutarakan oleh warga lainnya yang sudah memprediksi bahwa kekerasan semacam ini akan terus berulang di masa depan.

"Ce drame ne me surprend pas. Il y en aura d’others, c’est certain" ungkap seorang penduduk tanpa ragu.

Seorang pria yang lahir dan besar di kawasan tersebut menyesalkan perubahan sosial yang terjadi di lingkungannya. Ia merasa nilai-nilai saling menghormati antarwarga yang dulu ada kini telah memudar.

"Avant, les gens se respectaient. Aujourd’hui, c’est chacun pour soi." keluh pria tersebut menutup keterangannya.