Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) ke-33 akan dilaksanakan di China pada pertengahan November 2026, dipusatkan di Shenzhen dan Guangzhou, Provinsi Guangdong.
Prioritas utama perhelatan akbar kali ini yakni keterbukaan, inovasi, dan kerja sama. Chairman of APEC 2026 Senior Officials Meeting sekaligus President China Public Diplomacy Association, Chen Xu, mengatakan APEC kali ini dihadapi ketidakpastian global yang meningkat, serta tantangan berat dari sisi perdamaian dan pembangunan dunia.
Menurutnya, seluruh pemimpin ekonomi Asia Pasifik perlu turun tangan mewujudkan sebuah konsensus yang konkret.
"Itulah mengapa kita fokus pada tiga prioritas yaitu keterbukaan, inovasi, dan kerja sama untuk APEC di China. Hal ini untuk membuka kunci untuk mempromosikan pembangunan komunitas Asia Pasifik di bidang-bidang umum terluas yang diikuti oleh semua pihak," ungkapnya saat Konferensi Pers Linjia 7 Salon di Beijing, China, Senin (27/4).
Di tengah tantangan tersebut, Chen menyebutkan China akan mempertahankan stabilitas ekonomi dan secara aktif memajukan keterbukaan. Sebagai tuan rumah untuk ketiga kalinya, China berencana memajukan kerja sama ekonomi regional ke dalam kerja sama Asia Pasifik hingga global. Atas dasar itu, China memilih tema perhelatan APEC 2026 yakni Membangun Komunitas Asia Pasifik untuk Makmur Bersama.
"Ini merupakan respons yang kuat terhadap kompleksitas saat ini di Asia-Pasifik dan seluruh dunia, yang bertujuan untuk menentukan arah dan mengumpulkan kekuatan untuk kerja sama Asia Pasifik dan lebih memperkuat rasa kebersamaan Asia Pasifik di kawasan ini," tutur Chen.
Chen menuturkan beberapa prioritas utama dalam penyelenggaraan APEC 2026. Pertama, APEC harus bisa membangun Asia Pasifik yang terbuka dan saling terhubung, terlebih tahun ini merupakan peringatan ke-20 visi kawasan perdagangan bebas Asia-Pasifik atau Free Trade Area of the Asia-Pacific (FTAAP).
China, lanjut Chen, juga akan mendukung perdagangan multilateral, menjunjung tinggi regionalisme terbuka, secara aktif mengoordinasikan berbagai jalur menuju FTAAP, dan membahas keselarasan perjanjian dagang ASEAN Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).
"Kami akan secara aktif mempromosikan perumusan dokumen kerja sama konektivitas APEC baru untuk membangkitkan sinergi bagi keterbukaan dan pembangunan regional," jelasnya.
Poin kedua yakni APEC harus membangun Asia-Pasifik yang digerakkan oleh inovasi. Menurutnya, konsensus kerja sama terpenting adalah memanfaatkan kekuatan inovasi ilmiah, terutama teknologi AI untuk pertumbuhan ekonomi dan menjembatani kesenjangan digital di kawasan Asia-Pasifik.
"Kami akan mengadakan serangkaian acara dalam pekan digital untuk memperdalam komunikasi dan kerja sama dalam pengembangan digital dan cerdas, memberdayakan berbagai industri, infrastruktur AI dan pembangunan inklusif dan bermanfaat bagi semua, aliran data, bea cukai cerdas, dan bidang lainnya," tutur Chen.
Prioritas ketiga yakni APEC harus membangun Asia-Pasifik yang bercirikan kerja sama. Dia menilai bahwa sektor ekonomi di kawasan Asia Pasifik memiliki sumber daya dan tahapan pembangunan terkuat di dunia yang bisa saling melengkapi.
"Kami akan sepenuhnya menggali keunggulan komparatif dari berbagai ekonomi, secara aktif melakukan komunikasi kebijakan dan berbagi pengalaman, memperdalam kerja sama praktis, ekonomi, dan teknologi, termasuk kemajuan baru yang akan dicapai dalam kerja sama di bidang pembangunan hijau dan rendah karbon, energi bersih, dan sebagainya," kata Chen.
Chen mengungkapkan, pemerintah China juga akan memperdalam Kerja sama di semua bidang termasuk bidang fiskal dan keuangan, transportasi, pariwisata, usaha kecil dan menengah (UKM) untuk lebih memfasilitasi perjalanan bersama.
Kemudian, mempromosikan interaksi di bidang sumber daya manusia, perempuan, pemuda, media, dan bidang lainnya. Hal ini, kata dia, diharapkan agar kerja sama Asia Pasifik dapat lebih bermanfaat bagi berbagai ekonomi, strata sosial, dan komunitas.
Selain itu, Chen menyebutkan bahwa pertemuan para menteri di Senior Officials' Meeting (SOM) APEC akan fokus mempromosikan kerja sama praktis di berbagai bidang. Pada tahun ini, rencananya terdapat 11 pertemuan menteri serta lebih dari 300 konferensi dan acara, yang hasilnya akan ditampilkan pada APEC Economic Leaders Week pada November 2026.
Adapun pada 11-19 Mei 2026, China akan mengadakan SOM kedua dan pertemuan terkait di Shanghai, di mana akan menandai pertemuan menteri pertama dengan tema Forum Perempuan dan Ekonomi. Tema forum ini adalah mempromosikan pemberdayaan ekonomi perempuan untuk sejahtera bersama di Asia-Pasifik.
Kemudian, pada 20-23 Mei 2026, China akan mengadakan pertemuan para menteri yang bertanggung jawab atas perdagangan di Suzhou, Provinsi Jiangsu dengan fokus membangun tatanan ekonomi dan perdagangan regional dan multilateral yang terbuka dan dapat diprediksi serta mendorong mesin baru kerja sama perdagangan dan investasi yang inovatif dan dinamis.
APEC 2026 di Tengah Tantangan Global
Sementara itu, Director of APEC Research Center Nankai University, Liu Chenyang, menegaskan bahwa APEC tahun ini akan terselenggara di tengah meningkatnya unilateralisme dan proteksionisme, serta konflik regional yang berkali-kali terjadi di kawasan Asia Pasifik.
"APEC memposisikan diri sebagai saluran utama untuk kerja sama regional Asia-Pasifik. Selama beberapa tahun terakhir, APEC telah menghadapi banyak tantangan termasuk dua krisis keuangan, dua wabah epidemi. Untuk organisasi seperti ini, kami sangat yakin bahwa APEC akan mampu mengatasi tantangan saat ini," tegas Liu.
Lebih lanjut, Liu mengatakan bahwa APEC berkomitmen pada fasilitasi dan liberalisasi perdagangan dan investasi. Namun, unilateralisme yang merajalela, proteksionisme, dan kesulitan di World Trade Organization (WTO) merupakan kenyataan yang tidak bisa dihindari.
"Dan APEC menggeser fokusnya ke arah kerja sama konektivitas dan kerja sama rantai pasokan, termasuk memajukan kerja sama regulasi dan pembentukan FTAAP," tuturnya.
Prioritas utama lain dalam pertemuan KTT APEC nantinya , kata Liu, yakni masalah kecerdasan buatan (AI), hingga perdagangan, dan ekonomi digital. Hal ini menandakan bahwa area kerja sama APEC semakin meluas dan mendalam.
"AI dan ekonomi digital adalah prioritas utama bagi semua. APEC tidak hanya berfokus pada tata kelola digital tetapi juga berfokus pada pemberdayaan digital dan mempersempit kesenjangan digital, sehingga menjadi contoh global untuk mendorong ekosistem digital yang berpusat pada manusia," tutur Liu.
Nantinya, APEC juga akan meningkatkan koordinasi dan interaksinya dengan WTO, G20, dan BRICS serta mekanisme multilateral lainnya. Liu menilai bahwa selama ini, APEC telah berkomitmen mendukung WTO, terutama di bidang pertumbuhan, energi, dan ketahanan pangan, ekonomi rendah karbon dan hijau, perubahan iklim, dan lain sebagainya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·