Jakarta -
Larangan mengonsumsi daging babi dalam Islam kerap dikaitkan dengan alasan kesehatan, mulai dari kandungan cacing pita hingga kebiasaan hidup babi yang dianggap kotor. Namun, pandangan tersebut dinilai tak sepenuhnya tepat secara ilmiah.
Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc, yang merupakan Guru Besar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI). Ia aktif memberikan konten edukasi di akun TikTok dan Instagram pribadinya @prof.zulys yang memiliki lebih dari 300 ribu followers.
Dalam pembahasan bertajuk 'Behind the Science' (15/05/2026), Prof. Zulys menjelaskan bahwa larangan konsumsi daging babi dalam Islam tidak semata-mata didasarkan pada alasan sederhana seperti faktor kebersihan atau penyakit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc, yang merupakan Guru Besar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI). Foto: @prof.zulys
Menurutnya, setiap aturan dalam Islam merupakan bagian dari maqashid syariah atau tujuan syariat yang mencakup menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
"Artinya, apa yang dihalalkan dan diharamkan selalu mengarah pada satu kebaikan untuk manusia, meskipun tidak selalu langsung bisa kita pahami," ujar Prof. Zulys.
Ia menambahkan bahwa alasan umum seperti babi membawa bakteri patogen atau cacing pita sebenarnya tidak cukup kuat dijadikan dasar utama keharaman babi dari sisi sains modern. Sebab, teknologi pangan saat ini memungkinkan proses sterilisasi untuk menghilangkan bakteri maupun parasit tersebut.
"Sebagai ilmuwan, alasan-alasan ini tidak sepenuhnya kuat secara ilmiah. Karena teknologi modern bisa mensterilkan bakteri patogen dan menghilangkan cacing pita. Hewan lain juga bisa hidup di lingkungan kotor, tetapi tetap halal dikonsumsi," jelasnya.
Babi guling. Foto: Ilustrasi iStock
Prof. Zulys juga menegaskan bahwa hingga kini belum ada jawaban ilmiah yang benar-benar pasti mengenai alasan utama babi diharamkan dalam Islam. Namun, ia membuka kemungkinan bahwa penelitian lebih lanjut di masa depan bisa menghadirkan pemahaman baru.
Salah satu pembahasan yang menarik perhatian adalah soal kemiripan biologis antara manusia dan babi. Berdasarkan sejumlah riset, DNA manusia dan babi disebut memiliki kemiripan hingga 98%. Selain itu, beberapa organ babi seperti jantung, ginjal, dan kulit juga dinilai sangat mirip dengan organ manusia.
Kemiripan tersebut bahkan dimanfaatkan dalam pengembangan teknologi xenotransplantasi atau transplantasi organ hewan ke manusia.
Ilustrasi halal dan 'no pork' Foto: Getty Images/Andi Purnomo
Prof. Zulys menyinggung penelitian yang dilakukan University of Maryland School of Medicine, ketika organ babi pernah digunakan untuk transplantasi pada manusia dan pasien dapat bertahan hidup selama dua bulan.
"Secara biologis, babi adalah hewan yang dekat dengan manusia. Kalau suatu hari teknologi rekayasa genetika organ babi semakin maju, apakah dapat disimpulkan bahwa memakan babi akan mendekati konsep kanibalisme semu? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab sepenuhnya oleh sains," katanya.
Meski begitu, Prof. Zulys menekankan bahwa seluruh pembahasan tersebut masih berupa kajian ilmiah dan belum dapat dijadikan dasar mutlak terkait hukum agama. Ia mengingatkan bahwa sains dan iman memiliki ranah yang berbeda.
"Sains adalah proses memahami sunatullah (hukum dan aturan Allah SWT). Bisa semakin menguatkan keyakinan, tetapi tidak selalu menjadi dasar utama ketaatan. Karena iman tidak membutuhkan pembuktian laboratorium," pungkasnya.
(sob/adr)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·