PSG Raih Juara Liga Champions Usai Tekuk Arsenal Lewat Penalti

Sedang Trending 47 menit yang lalu

Paris Saint-Germain (PSG) sukses mempertahankan takhta tertinggi sepak bola Eropa setelah menumbangkan Arsenal dalam laga final Liga Champions 2025/2026 di Stadion Puskas Arena, Hongaria, Sabtu (30/5/2026) malam waktu setempat.

Klub raksasa Prancis tersebut keluar sebagai pemenang melalui adu penalti dengan skor 4-3 setelah bermain imbang 1-1 hingga babak tambahan waktu selesai.

Arsenal sebenarnya memimpin lebih dulu lewat gol cepat Kai Havertz pada menit keenam setelah memanfaatkan kesalahan sapuan bola kapten PSG, Marquinhos.

Namun, skuad asuhan Luis Enrique membalas pada menit ke-64 melalui eksekusi penalti menyusul pelanggaran terhadap Khvicha Kvaratskhelia di kotak terlarang.

Pertandingan harus dilanjutkan ke babak adu penalti setelah pergantian taktik dari kedua tim tidak membuahkan gol tambahan hingga babak perpanjangan waktu usai.

Pada babak penentuan, Lucas Beraldo sukses menjalankan tugasnya sebagai penendang terakhir PSG, sementara sepakan bek Arsenal Gabriel Magalhães gagal menemui sasaran.

Kekalahan ini memperpanjang catatan Arsenal sebagai tim dengan jumlah pertandingan terbanyak dalam sejarah Liga Champions yang belum pernah mengangkat trofi, yakni sebanyak 226 laga.

Berdasarkan data statistik, penguasaan bola Arsenal yang hanya mencapai 24,7 persen menjadi rekor terendah oleh sebuah tim di final Liga Champions sejak musim 2003/2004.

Manajer Arsenal Mikel Arteta mengungkapkan kekecewaannya setelah timnya gagal mengonversi konsistensi sepanjang kompetisi menjadi sebuah trofi juara.

"Yes, it is very tough to accept when you are so consistent in the competition all the way to the final and in the end you lose the trophy on penalty kicks, so it is a difficult one." kata Mikel Arteta, Pelatih Arsenal saat berbicara kepada TNT Sports.

Arteta juga menambahkan bahwa klubnya sudah 22 tahun tidak mencapai final Liga Champions dan mengajak timnya untuk mengenali pencapaian musim ini.

"We haven't done it for 22 years [reached the Champions League final], so imagine the second time in our history that we have done it, and we need to recognise the season we had, but at the moment nobody is going to take the pain away from you." tutur Mikel Arteta, Pelatih Arsenal.

Arsitek asal Spanyol tersebut kemudian memberikan ucapan selamat kepada pihak lawan yang dinilainya memiliki kualitas individu mumpuni dan dilatih dengan sangat baik.

"They are a superb team and I congratulate them. Individual quality they have, the manner they are coached - they are a top, top team. You have to go through the emotions and if you're in pain, then go through the pain." ujar Mikel Arteta, Pelatih Arsenal.

Mikel Arteta meminta para pemainnya untuk merefleksikan hasil pertandingan ini agar dapat menunjukkan ambisi yang sama di masa depan.

"If you think you could do something else, then learn from it. Reflect on that and show the ambition that we want to have again." ucap Mikel Arteta, Pelatih Arsenal.

Ia juga menyatakan rasa bangganya terhadap perjuangan skuad The Gunners yang tampil luar biasa di bawah situasi sulit sepanjang musim ini.

"That I am so proud of them, with this season we have had under the circumstances. Internally, we know what we have been through." kata Mikel Arteta, Pelatih Arsenal.

Arteta menganggap melatih kelompok pemain ini merupakan sebuah hak istimewa, meskipun mereka melewatkan trofi terbesar setelah berhasil mengamankan gelar Liga Utama Inggris.

"It is just a privilege to manage this group of players and this team, the way they carry this badge and how much they put into it. We got a big one [Premier League] and missed out on the biggest one." tutur Mikel Arteta, Pelatih Arsenal.

Ketika berbicara kepada BBC Sport, Arteta menyinggung tentang potensi penalti untuk Arsenal yang tidak diberikan oleh wasit dalam pertandingan tersebut.

"I watched all the penalties in the competition this season over the past 72 hours to understand what's a penalty and not. That easily can be a penalty." ujar Mikel Arteta, Pelatih Arsenal.

Mikel Arteta juga menjelaskan alasan pemilihan Gabriel Magalhães sebagai salah satu penendang penalti dalam drama adu tos-tosan tersebut.

"He wanted to take number five. We have prepared and trained for this moment. Normally the penalty-takers would be Bukayo [Saka], Martin [Odegaard], Kai [Havertz], for sure. But we knew if we went to extra time and penalties the penalty-takers would be different players." ucap Mikel Arteta, Pelatih Arsenal.

Ia mengakhiri keterangannya dengan menyebut faktor ketidakberuntungan dalam hal presisi eksekusi yang membuat Arsenal gagal membawa pulang trofi Si Kuping Besar.

"You have to do this in this moment. We are unfortunate not to have the same precision in this moment that they had and that's why we have not won it." kata Mikel Arteta, Pelatih Arsenal.