PT Freeport Indonesia (PTFI) memproyeksikan kontribusi finansial kepada negara mencapai US$ 2,9 miliar atau setara Rp54 triliun pada tahun 2026. Target ini disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta pada Senin, 13 April 2026.
Nilai setoran tersebut mencakup pembayaran pajak sebesar US$ 1,2 miliar, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) senilai US$ 600 juta, dan dividen untuk MIND ID sebesar US$ 1 miliar. Dilansir dari Detik Finance, pencapaian ini didorong oleh peningkatan volume produksi bijih harian.
Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, menjelaskan bahwa perusahaan merencanakan peningkatan kapasitas produksi bijih hingga 156.000 ton per hari. Jumlah ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya yang berada di angka 139.000 ton per hari.
"Dengan asumsi harga emas US$ 4.000 tahun ini rencana penerimaan negara akan bisa US$ 2,9 miliar atau sekitar Rp 54 triliun," kata Tony Wenas, Presiden Direktur PTFI dalam rapat tersebut.
Selain peningkatan bijih, PTFI menargetkan produksi logam berupa 1,1 miliar pound tembaga dan 800 ribu ounces emas pada periode 2026. Seluruh produksi emas tersebut, yang diperkirakan mencapai 26 ton, direncanakan akan diserap oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM).
Peningkatan setoran diprediksi akan terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang seiring pulihnya operasional tambang bawah tanah. Pada tahun 2027, kontribusi kepada kas negara diperkirakan melonjak hingga US$ 4,3 miliar atau mendekati Rp70 triliun.
Untuk jangka panjang mulai tahun 2028, PTFI memproyeksikan setoran tahunan yang stabil di angka US$ 6 miliar atau sekitar Rp100 triliun. Angka tersebut akan terus dikontribusikan melalui kombinasi pajak, PNBP, dan dividen rutin bagi negara.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·