Puspaga Tangerang ajak orang tua peka mitigasi kekerasan digital 

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Tangerang (ANTARA) - Pemerintah Kota Tangerang melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) mengajak kepekaan orang tua dalam memitigasi risiko kekerasan digital termasuk cyberbullying terhadap anak.

Konselor Puspaga Kota Tangerang Yulisza Syahtiani di Tangerang Senin mengatakan perundungan digital memiliki efek domino yang berbahaya. Meskipun tidak ada kontak fisik, luka psikologis yang ditimbulkan sangat nyata.

Beberapa perubahan perilaku anak yang mengalami perundungan digital yakni kecemasan, depresi, hingga trauma jangka panjang yang dapat terbawa hingga anak beranjak dewasa.

Beberapa tanda lain yang perlu diwaspadai antara lain anak tiba-tiba menarik diri, takut melihat notifikasi ponsel, emosi yang tidak stabil, hingga menolak untuk bersekolah tanpa alasan yang jelas.

"Perundungan di dunia maya bukan lagi ancaman yang bisa disepelekan. Maka itu kita perlu melakukan mitigasi," ujarnya.

Maka itu kehadiran PP Tunas diharapkan menjadi instrumen kuat bagi penyelenggara sistem elektronik untuk lebih bertanggung jawab dalam melindungi pengguna usia anak.

"Cyberbullying mungkin terjadi di balik layar, tapi dampaknya bisa merusak masa depan. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk proaktif menjaga ekosistem digital kita tetap sehat bagi tumbuh kembang anak," pungkas Yulisza.

Melalui sosialisasi PP Tunas 2025 Puspaga juga mendorong para orang tua dan pendidik untuk melakukan langkah-langkah konkret jika menemukan kasus perundungan diantaranya memberikan ruang aman bagi anak untuk bercerita.

Mengakui trauma yang dirasakan anak sebagai langkah awal pemulihan. Menyimpan tangkapan layar perlakuan tidak menyenangkan sebagai alat bukti.

Melaporkan kepada pihak sekolah maupun melalui fitur laporan di platform media sosial serta mengedukasi anak mengenai batasan dan etika berkomunikasi di ruang siber.

Pewarta: Achmad Irfan
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.