Respons Sultan HB X soal Pelajar Tewas Akibat Klitih

Sedang Trending 17 jam yang lalu

GUBERNUR Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X menyoroti tewasnya remaja, AA, 18 tahun, di kawasan Kotabaru, dekat Stadion Kridosono, Ahad, 17 Mei 2026.

Polisi mengungkap korban tewas diduga akibat penganiayaan kelompok geng pelajar lain memakai senjata tajam. Polisi telah menangkap tiga dari enam terduga pelaku.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sultan heran dan mempertanyakan peristiwa tragis itu. Raja Keraton Yogyakarta itu menyinggung fenomena kekerasan jalanan atau klitih yang seolah muncul kembali setelah mereda cukup lama. "Kami (pemerintah) juga sedang melakukan identifikasi kasus itu, karena selama ini, kan, klitih sekian bulan tidak ada kasus, kenapa ada lagi?" kata Sultan, Kamis, 21 Mei 2026.

Sultan menyatakan belum mengetahui persis berulangnya fenomena kekerasan jalanan itu. Apakah karena kondisi ekonomi atau memang murni kenakalan pelajar. Ia membeberkan pencegahan kasus kekerasan jalanan sebelumnya sudah coba dilakukan dengan menggerakan komunitas masyarakat Jaga Warga di tiap kampung. "Tapi sekarang kok timbul lagi (kekerasan jalanan) itu, motifnya apa, perlu didalami, belum ada report dari tim di lapangan," ujar Sultan.

Untuk mendalami kasus ini, Sultan menuturkan Pemerintah DIY telah menerjunkan sebuah tim khusus untuk melihat secara langsung keadaan pelajar di lapangan sekaligus mengidentifikasi latar belakang masalah tersebut. 

Sultan menuturkan proses pencarian akar masalah ini tidak bisa dilakukan secara sederhana dan tidak bisa hanya melibatkan pihak kepolisian. Melainkan harus merangkul unsur lingkungan serta masyarakat sekitar.

Menurut dia, persoalan kekerasan jalanan di Yogyakarta butuh perhatian serius. Dan penanganannya tidak sesederhana membalik telapak tangan. "Dari kasus itu benar benar perlu dipahami, apa yang sebetulnya terjadi. Apakah karena ada peran seniornya (di sekolah) yang ikut membina, kita belum tahu, jangan sampai keliru," kata dia.

Kapolresta Yogyakarta Komisaris Besar Polisi Eva Guna Pandia menuturkan pihaknya masih memburu sejumlah anggota geng di Yogyakarta yang diduga terlibat penganiayaan remaja asal Ngampilan Kota Yogyakarta itu. 

Sebanyak tiga pelaku utama aksi penganiayaan yang terjadi di Kotabaru, dekat Stadion Kridosono itu sebelumnya sudah ditangkap dipersembunyian mereka di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu 20 Mei 2026. "Dari hasil pendalaman, pelaku (penganiayaan) ada enam orang, jadi masih tiga lagi yang buron, kami kejar," ujar Pandia, Kamis.

Pandia pun mengimbau para orang tua terduga pelaku bersikap kooperatif. "Kami harap para orangtuanya (pelaku) juga menyerahkan putranya karena ini negara hukum, segala perbuatan melanggar hukum apalagi menghilangkan nyawa orang tentu kami proses,” ujar Pandia.

Tiga pelaku utama yang telah tertangkap merupakan seorang pelajar aktif berinisial AF, serta dua orang pria berkategori dewasa berinisial MY dan LA. Ketiganya telah ditetapkan tersangka.

Adapun tersangka MY dan LA memiliki latar belakang pendidikan dari sekolah yang sama. Peran ketiga pelaku yang ditanglap sebagai eksekutor penganiayaan. “MY dan LA satu almamater, jadi statusnya memang sudah lulus sekolah," kata Pandia.