Liputan6.com, Jakarta - Lahan sudah ada. Bibit sudah siap. Pupuk sudah dibeli. Air mengalir. Tenaga kerja pun tersedia. Kebanyakan orang akan berpikir, semua sudah lengkap untuk mulai bertani. Tapi ternyata, gambaran itu masih jauh dari kenyataan pertanian yang sesungguhnya profesional.
Dimas Christy Kusuma Putra, pendiri Rejo Farm Sociopreneur Integrated Farming di Rejodani, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, punya jawaban berbeda. Bagi pria yang memulai petualangan pertaniannya dari dunia engineering ini, pertanian modern adalah pekerjaan tim yang melibatkan setidaknya empat disiplin ilmu sekaligus. Dan kesalahan petani selama ini adalah justru mengabaikan hal mendasar ini.
Artikel ini hadir untuk membuka wawasan bahwa pertanian profesional bukan pekerjaan satu orang dengan satu ilmu. Ia adalah orkestra dan setiap pemain punya peran yang tak bisa diwakilkan.
Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Petani konvensional di Indonesia umumnya mengandalkan cara bercocok tanam yang diwariskan turun-temurun dari zaman kolonial hingga sekarang. Tidak ada keterlibatan ahli teknik untuk merancang infrastruktur, tidak ada ahli biologi untuk menjaga ekosistem tanah, tidak ada ahli kimia untuk merumuskan nutrisi tanaman secara tepat. Semua dikerjakan dengan insting dan kebiasaan.
Akibatnya sudah bisa ditebak, yakni harga komoditas tidak stabil. Cabai bisa tembus Rp120.000 per kilogram di musim kemarau, lalu anjlok ke Rp10.000 saat panen raya. Melon berkualitas premium masih didominasi produk impor. Anak muda tidak tertarik karena pertanian dianggap pekerjaan kasar tanpa masa depan yang jelas.
Kesalahan petani bukan soal malas atau kurang modal. Masalah sesungguhnya jauh lebih struktural, yakni pendekatan yang digunakan memang tidak dirancang untuk menghasilkan. "Metode yang mereka pakai itu ya tidak profesional," kata Dimas kepada reporter Liputan6.com pada Senin (11/5/2026).
Solusi Rejo Farm, Tim dengan 4 Peran Utama
Sejak awal, Dimas merancang sebuah ekosistem kerja di mana setiap aspek teknis pertanian ditangani oleh orang yang benar-benar ahli di bidangnya. Hasilnya, SOP yang terukur, produksi yang konsisten, dan biaya yang terkendali. Inilah empat pilar tim yang membuat Rejo Farm berbeda.
1. Insinyur (Engineering)
Sebelum satu benih pun ditanam, tim engineering sudah bekerja. Mereka merancang green house, sistem irigasi, jalur pipa, dan seluruh utilitas agar semuanya berjalan efektif dan efisien. Tujuannya untuk menekan biaya produksi sebanyak mungkin sebelum masa tanam dimulai.
"Orang pertama yang saya tugaskan adalah orang engineering. Untuk mendesain supaya semua utilitas kita efektif. Penggunaan airnya efektif. Infrastruktur saya efektif. Kemudian secara estetika juga oke," jelas Dimas.
Semua pipa digambar dengan detail. Jika ada yang bocor, teknisi tahu persis di titik mana dan cara memperbaikinya tanpa perlu menghentikan seluruh sistem.
Teman-teman di jurusan pertanian, lanjut Dimas, umumnya tidak terbiasa merancang struktur bangunan atau sistem utilitas. Itulah mengapa insinyur sipil atau teknik industri menjadi tulang punggung pertama sebelum kebun benar-benar hidup.
2. Ahli Biologi
Tanah bukan sekadar media tanam. Di dalamnya hidup jutaan mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan serangga mikro, yang bisa menjadi sahabat atau musuh tanaman. Tim ahli biologi di Rejo Farm bertugas memastikan lingkungan farm dipenuhi oleh organisme yang bersifat probiotik, bukan patogen penyebab penyakit.
Mereka merumuskan insektisida dan fungisida alami berbasis organisme hidup, menentukan jenis bakteri dan jamur yang aman untuk digunakan, serta membangun parameter biologis yang menjadi panduan perawatan harian. Selama kondisi biologis terjaga, tanaman tumbuh optimal tanpa harus bergantung berat pada bahan kimia sintetis.
3. Ahli Kimia
Salah satu kesalahan petani yang paling umum adalah menggunakan pupuk dan pestisida tanpa benar-benar memahami kandungan kimianya. Kotoran sapi mengandung amonium, tapi berapa kadar idealnya? Bagaimana cara menggunakannya agar tidak membakar akar? Siapa yang tahu semua hal itu? Ahli kimia.
"Sebenarnya orang biologi, orang kimia itu paling banyak dibutuhkan di pertanian," kata Dimas dengan nada penuh keyakinan.
Ketika intervensi biologis tidak cukup mengatasi serangan hama, ahli kimia menentukan jenis dan dosis pestisida sintetis yang tepat dan efektif membunuh hama tanpa merusak tanaman atau membahayakan manusia.
4. Tim SDM & Marketing
Ketika tiga pilar sebelumnya telah membangun fondasi produksi yang kokoh, tim SDM masuk untuk menyusun skema kerja dari praproduksi hingga pascaproduksi. Mereka memastikan alur kerja terdokumentasi dalam SOP yang bisa dijalankan bahkan oleh tenaga kerja baru sekalipun.
Sementara itu, tim marketing tidak hanya melempar produk ke pasar konvensional. Rejo Farm membangun jalur pemasaran langsung ke hotel, restoran, rumah makan, hingga membuka wisata petik di mana pengunjung membayar lebih mahal justru karena pengalaman memanen sendiri.
Intinya, petani di Rejo Farm bukan pengambil keputusan. Mereka adalah pelaksana SOP yang sudah dirancang oleh keempat tim di atas. Kolaborasi inilah yang mengubah pertanian dari sekadar adu untung-untungan menjadi bisnis yang terukur dan berkelanjutan.
"Kegiatan pertanian yang komprehensif, adaptif terhadap teknologi dan keilmuan, itu tidak bisa dicapai oleh petani itu sendiri. Tapi adalah kolaborasi antar ilmu. Nah, itu yang kita temukan," kata Dimas.
Mengapa Selama Ini Kolaborasi Ilmu Jarang Terjadi?
Jawabannya ada di sistem pendidikan kita. Lulusan teknik berpikir secara teknik. Lulusan biologi berpikir secara biologi. Lulusan kimia berpikir secara kimia. Mereka tidak dilatih untuk berkolaborasi lintas ilmu, apalagi mengaplikasikannya di sektor pertanian.
"Kita belum punya universitas. Yang kita punya itu ya lulusan fakultas," kata Dimas.
Artinya, lulusan perguruan tinggi kita masih berpikir secara fakultatif, sempit sesuai jurusannya, bukan secara universal. Padahal pertanian modern membutuhkan cara berpikir yang melampaui batas-batas disiplin ilmu.
Stigma juga berperan besar. Orang-orang pintar lulusan kimia atau biologi lebih memilih bekerja di laboratorium, pabrik farmasi, atau industri manufaktur. Pertanian dianggap tempat pelarian terakhir. Padahal, justru di situlah keahlian mereka paling dibutuhkan dan paling bisa menciptakan dampak nyata.
Dampak Jika Kolaborasi Ini Tidak Terjadi
Indonesia mengekspor jahe ke luar negeri, tapi juga mengimpor jahe karena kebutuhannya tidak terpenuhi oleh produksi lokal. Masker berbahan lidah buaya dijual di pasaran, tapi made in China. Sementara lidah buaya tumbuh liar di hampir semua sudut tanah Indonesia. Ini bukan lelucon, ini ironi yang menyakitkan.
Di level yang lebih serius, ketahanan pangan Indonesia rentan terhadap guncangan global. Jika rantai pasok dunia terganggu, entah karena perang, blokade, atau krisis geopolitik, dan kita masih bergantung pada impor untuk kebutuhan dasar, maka bukan krisis ekonomi yang akan kita hadapi, melainkan krisis pangan yang jauh lebih mematikan.
Sumber daya alam kita luar biasa. Tanah kita subur. Iklim kita tropis sepanjang tahun. SDM kita melimpah. Tapi semua itu tidak berguna tanpa pengelola yang kompeten dan terlatih.
"Kita kaya sejak dalam kandungan, tapi tidak punya anak muda yang mampu mengelola kekayaan itu," keluh Dimas.
Rejo Farm telah membuktikan bahwa model pertanian berbasis kolaborasi multidisiplin bukan sekadar teori. Dengan tim insinyur, ahli biologi, ahli kimia, SDM, dan marketing yang bekerja dalam satu ekosistem, Rejo Farm mampu memproduksi hasil pertanian berkualitas premium secara konsisten, sesuatu yang belum banyak dicapai petani konvensional Indonesia. Kesalahan petani selama ini bukan soal tekun atau tidak, tapi soal sistem yang tidak pernah dibangun dengan benar.
Harapan Dimas sederhana namun besar, di mana anak muda dari berbagai latar belakang ilmu mulai melirik pertanian bukan sebagai pilihan terakhir, tapi sebagai karier profesional yang menjanjikan. Karena di sinilah, sesungguhnya, masa depan bangsa ini dipertaruhkan.
Pertanyaan Seputar Topik
Q: Apakah saya harus kuliah dulu untuk bisa bertani secara profesional?
A: Tidak harus. Yang terpenting adalah mau belajar dari orang yang benar-benar ahli di bidangnya, bukan hanya mengandalkan tutorial dari YouTube atau bertanya ke sesama petani yang pun belum tentu paham secara ilmiah. Salah satu cara terbaik adalah magang langsung di farm seperti Rejo Farm, di mana ilmu teknis dan manajerial diajarkan secara praktis dalam satu ekosistem nyata.
Q: Jurusan apa yang paling dibutuhkan di pertanian modern?
A: Berdasarkan model Rejo Farm, setidaknya empat bidang ilmu sangat dibutuhkan: teknik (sipil atau industri) untuk infrastruktur, biologi untuk ekosistem tanah dan pengendalian hama alami, kimia untuk nutrisi dan formulasi pupuk/pestisida, serta manajemen SDM dan pemasaran untuk membangun sistem dan pasar. Sarjana pertanian tetap dibutuhkan, terutama untuk menjalankan SOP di lapangan.
Q: Apakah pendekatan kolaborasi multidisiplin ini hanya cocok untuk skala besar?
Tidak. Prinsipnya bisa diterapkan bahkan dalam skala kecil. Petani skala rumahan bisa mulai dengan menyewa konsultan agronomi atau bergabung dengan komunitas petani berbasis sains. Yang terpenting bukan besarnya lahan, melainkan pola pikirnya: identifikasi masalah dengan benar, gunakan ilmu yang tepat, dan susun SOP yang bisa diulang.
Q: Bagaimana jika terjadi gagal panen meski sudah menggunakan pendekatan ilmiah?
A: Dengan pendekatan berbasis data dan SOP ilmiah, risiko gagal panen bisa ditekan secara signifikan. Setiap variabel — pH tanah, kelembaban, kandungan nitrogen-fosfat-kalium, jenis bakteri, hingga dosis pupuk — sudah termonitor dan terstandarisasi. Jika ada masalah, tim bisa mengidentifikasi akar penyebabnya dengan cepat. Ini sangat berbeda dengan petani konvensional yang baru menyadari masalah setelah tanaman sudah rusak.
Q: Apakah Rejo Farm menerima magang atau kunjungan belajar?
A: Ya, sangat terbuka. Rejo Farm menerima kunjungan dari berbagai jenjang — mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, kelompok tani, dan komunitas. Setiap kelas memiliki fokus yang berbeda tergantung kebutuhan: ada yang ingin belajar teknis budidaya, ada yang ingin memahami konsep bisnis dan sociopreneur, ada pula yang datang untuk diskusi strategis tentang masa depan pertanian Indonesia.
Q: Apa bedanya Rejo Farm dengan pertanian organik biasa?
A: Pertanian organik biasa berfokus pada penghindaran bahan kimia sintetis. Rejo Farm menggunakan pendekatan yang lebih menyeluruh: integrated farming zero waste berbasis sains. Artinya, selain mengelola pupuk dan pestisida secara bijak, Rejo Farm juga mengelola limbah (termasuk mengolah sampah organik menjadi maggot BSF), membangun infrastruktur dari bambu untuk menekan impor material, menggunakan IoT untuk memantau kondisi tanah secara real-time, dan berkolaborasi dengan universitas seperti ITS dan Telkom University untuk penelitian nano-teknologi dan sterilisasi air. Pertanian organik adalah satu langkah maju; Rejo Farm mencoba berlari jauh lebih jauh dari itu.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·