Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, mendukung langkah pemerintah untuk mengaudit investigatif perusahaan taksi Green SM usai menjadi 'biang kerok' kecelakaan antara kereta api (KA) Argo Bromo dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) lalu.
Tragedi tabrakan beruntun itu bermula dari tersangkutnya sebuah taksi hijau di perlintasan sebidang kereta api yang terindikasi menyebabkan eror pada sistem sinyal perkeretaapian. Insiden maut ini menelan sedikitnya 16 korban jiwa.
Ia mendesak ada pembekuan sementara izin operasional perusahaan taksi listrik Green SM.
"Saya sudah menyatakan, mendukung Pak Presiden dan kementerian terkait untuk membekukan setidaknya sementara izin operasional Green SM Taksi," ujar Rieke saat melakukan peninjauan di Stasiun Bekasi Timur (29/4).
Kendati begitu, Rieke menilai persoalan ini tidak bisa hanya diselesaikan dengan pembekuan izin, melainkan harus diusut tuntas hingga ke aspek legalitas dan kelaikan teknis. Ia menyoroti asal-usul perusahaan yang bernaung di bawah konglomerasi Vietnam, di mana seluruh armadanya diimpor langsung dari negara tersebut.
"Kami tidak tahu apakah sudah melalui fine test namanya, sudah melalui uji kelayakan atau tidak sebagai mobil-mobil dengan menggunakan energi listrik, dan menjadi armada transportasi umum," tegasnya.
Pemeran Oneng dalam sitkom Bajaj Bajuri ini membeberkan hasil penelusurannya yang menemukan indikasi kejanggalan pada proses keluarnya izin operasional taksi tersebut.
Izin itu dinilai terbit sangat cepat melalui sistem perizinan daring (OSS), yakni diajukan sekitar Januari 2024 dan keluar pada 15 Maret 2024. Ia menyayangkan mudahnya izin bagi investor asing, yang sangat kontras dengan sulitnya pengusaha transportasi lokal bertahan.
"Pas kita lagi Pemilu 2024, keputusan untuk perusahaan yang bahkan menggunakan armada langsung datang dari luar. Bagaimana mungkin bisa secepat itu sementara kita tahu taksi dalam negeri itu setengah mati untuk bertahan hidup? Kalau kita tidak anti-asing, tapi tentu investasi di Indonesia juga jangan karpet merah untuk investor luar tapi berdarah-darah untuk para pengusaha lokal sendiri," cecar Rieke.
Menanggapi isu mengenai nasib para sopir jika perusahaan taksi dibekukan, Rieke menegaskan keselamatan transportasi publik dan nyawa masyarakat jauh lebih krusial dibandingkan sekadar alasan lapangan pekerjaan.
"Emang ibu-ibu yang meninggal itu bukan perempuan-perempuan yang bekerja? Saya turun langsung begini karena apa? Karena enam orang yang meninggal itu adalah termasuk dari daerah pemilihan saya di Kabupaten Bekasi. Ya itu perempuan-perempuan yang bekerja," pungkasnya.
Kata Green SM
Perusahaan taksi listrik, Green SM, menyampaikan belasungkawa kepada para korban kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Green SM mengatakan, saat ini proses investigasi terkait kecelakaan tersebut masih berjalan. Belum ada kesimpulan yang diambil.
"Green SM terus berkoordinasi dengan otoritas terkait dengan menyampaikan informasi yang relevan serta mendukung jalannya investigasi," ujarnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·