Washington (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio, Selasa (5/5) menyatakan bahwa AS terdampak oleh kenaikan harga minyak di tengah konflik dengan Iran, namun tetap cukup tangguh menghadapi dampak pasar energi.
“Kami tentu masih rentan dalam batas tertentu terhadap harga global … tetapi pada akhirnya, kami lebih terlindungi dibandingkan negara lain,” kata Rubio dalam sebuah pengarahan.
Pada Senin (4/5), Presiden AS Donald Trump mengatakan mulai melihat harga energi menurun dan memperkirakan harga akan turun secara signifikan setelah perang berakhir.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap target-target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban sipil.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah, sebagai bentuk pertahanan diri.
Ketegangan di sekitar wilayah Iran mengalami peningkatan dan telah menyebabkan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, yang turut mendorong kenaikan harga minyak dan tekanan ekonomi di berbagai belahan dunia.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: Harga bensin AS tembus level tertinggi sejak 2022, dampak konflik Iran
Baca juga: Rupiah melemah dipicu ketegangan AS-Iran yang tingkatkan harga energi
Penerjemah: Katriana
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
42 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·