Nilai tukar rupiah mencatatkan posisi terlemah sepanjang sejarah dengan menyentuh level Rp17.510 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pukul 10:10 WIB. Pelemahan sebesar 0,56 persen ini terjadi di tengah sentimen negatif global serta ketidakpastian kebijakan fiskal di dalam negeri.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, mata uang Indonesia mengalami depresiasi tajam akibat kombinasi ketegangan geopolitik yang memicu kenaikan harga minyak mentah dan kekhawatiran investor terhadap disiplin belanja negara. Investor cenderung melepas aset berdenominasi rupiah karena meningkatnya risiko pasar.
Pengamat pasar uang memperingatkan potensi pelemahan lebih lanjut jika mata uang Garuda gagal bertahan pada level psikologis tertentu pada penutupan perdagangan hari ini.
"jika rupiah sore ini ditutup di level Rp17.500/US$, maka berisiko melanjutkan pelemahan ke arah Rp17.600/US$ hingga Rp17.800/US$." kata Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas.
Analisis eksternal menunjukkan bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama mode penghindaran risiko oleh pelaku pasar global. Ketidakpastian mengenai kesepakatan damai di Timur Tengah memperburuk proyeksi stabilitas ekonomi kawasan tersebut.
Faktor domestik turut menekan rupiah, termasuk penundaan pengenaan royalti hasil tambang yang seharusnya menambah pendapatan negara. Selain itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menunjukkan penurunan optimisme pada kelompok masyarakat menengah ke bawah dengan pengeluaran Rp1 juta hingga Rp4 juta.
Kondisi fiskal juga menjadi sorotan setelah defisit APBN 2026 tercatat mencapai Rp240 triliun hingga akhir Maret. Belanja pemerintah pada kuartal pertama melonjak signifikan sebesar 21,81 persen secara tahunan, yang berimplikasi pada peningkatan kebutuhan pembiayaan negara secara cepat.
Bank Indonesia berupaya meredam volatilitas ini melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Data otoritas moneter menunjukkan nilai outstanding SRBI pada April melonjak hingga Rp957,9 triliun, meningkat Rp126,7 triliun dibandingkan posisi Maret 2026 sebagai upaya menarik arus modal asing.
Sepanjang tahun 2026 hingga hari ini, rupiah tercatat telah terdepresiasi sebesar 4,67 persen. Penurunan terdalam terjadi sejak awal kuartal kedua sebesar 2,93 persen, menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan pada periode tersebut.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·