Nilai tukar rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) terpantau bergerak defensif dengan penguatan yang sangat terbatas pada perdagangan awal pekan ini. Dilansir dari Bloombergtechnoz, kondisi ini terjadi di tengah perhatian intens investor terhadap dinamika proposal perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Rupiah offshore dibuka dengan perubahan tipis 0,01% pada level Rp17.386/US$ dari posisi penutupan pekan lalu. Tak lama kemudian, apresiasi mata uang Garuda sedikit menebal menjadi 0,07% ke posisi Rp17.374/US$ pada Senin, 11 Mei 2026.
Stagnansi pergerakan rupiah dalam rentang terbatas mencerminkan sikap wait and see para pelaku pasar. Hal ini dipicu oleh langkah Presiden AS Donald Trump yang secara resmi menolak proposal perdamaian terbaru yang diajukan oleh pihak Iran.
Penolakan timbal balik atas proposal perdamaian ini memicu reaksi negatif di pasar global. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dilaporkan melonjak 0,14% ke posisi 98,03 seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven.
Kondisi pasar energi turut memanas dengan kenaikan harga minyak Brent sebesar 3,28% menjadi US$104,6 per barel. Bahkan, harga minyak untuk pengiriman Juni sempat menyentuh level US$120,34 per barel setelah pernyataan Trump di media sosial.
"SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA."
Demikian bunyi pernyataan Trump saat mengomentari proposal tersebut sebagaimana dikutip dari Bloombergtechnoz. Iran sendiri dalam laporannya menawarkan untuk mengencerkan sebagian uranium yang diperkaya tingkat tinggi dan mengirim sisanya ke negara ketiga.
Meski demikian, pihak Iran tetap menuntut jaminan pengembalian uranium jika perundingan gagal dan menolak pembongkaran fasilitas nuklir mereka. Jason Wong, analis strategi di Bank of New Zealand, menilai penolakan Trump membawa pasar ke mode risk-off.
"Penolakan Trump terhadap rencana perdamaian terbaru Iran membuat pekan ini dimulai dalam mode risk-off’, membalikkan sebagian pergerakan harga yang kita lihat minggu lalu," kata Jason Wong.
Wong menambahkan bahwa tren sentimen negatif ini berpotensi terus berlanjut pada perdagangan awal pekan. Dampaknya terlihat jelas di kawasan Asia dengan melemahnya won Korea Selatan sebesar 0,45% dan yen Jepang 0,15%.
Tekanan Fiskal dan Kebijakan Royalti Dalam Negeri
Di tengah tekanan eksternal, kondisi ekonomi domestik juga menjadi perhatian setelah pertumbuhan ekonomi tercatat 5,61%. Meski melampaui ekspektasi, dampak pertumbuhan tersebut dinilai masih minim terhadap sektor riil sehingga menciptakan sentimen beragam.
Pemerintah mencatat defisit kuartal I-2026 telah mencapai Rp240 triliun. Sebagai langkah mitigasi dan upaya meningkatkan penerimaan negara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan kenaikan tarif royalti sejumlah komoditas mineral.
| 9% - 11% | 9,5% - 13% | |
| Katoda Tembaga | 7% | 7% - 10% |
| Emas dan Timah | Penyesuaian | Kenaikan Tarif |
| Bijih Nikel | Skema Tetap | Penyesuaian Ambang Batas |
Kebijakan ini diambil mengingat royalti menyumbang seperlima dari total pendapatan negara pada kuartal pertama tahun ini. Namun, rencana tersebut telah memberikan tekanan pada harga saham perusahaan tambang di bursa domestik sejak akhir pekan lalu.
Belanja pemerintah yang ekspansif tumbuh tajam sebesar 21,8% pada kuartal I-2026, jauh melampaui pertumbuhan kuartal sebelumnya yang hanya 4,5%. Hal ini menuntut arus pendapatan yang lebih kuat guna menjaga agar defisit anggaran tidak melebar secara signifikan.
Secara teknikal, nilai tukar rupiah diprediksi masih berisiko melemah dengan target menuju kisaran Rp17.400/US$ hingga Rp17.450/US$. Jika tren bearish berlanjut, mata uang domestik berpotensi menyentuh level psikologis baru di Rp17.500/US$.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·