Saat Semua Doa Terlantun di Bawah Langit Malam Muzdalifah

Sedang Trending 58 menit yang lalu
Suasana Mabit di Muzdalifah. Foto: Dok. MCH 2026

Langit malam di Muzdalifah membentang tanpa atap, tanpa sekat. Jutaan jemaah haji berbaring di hamparan terbuka, menatap langit dengan bulan yang terang.

Selasa, 26 Mei 2026 malam, hingga Rabu 27 Mei subuh, jemaah haji mabit di Muzdalifah. Pantauan kumparan di lokasi, karpet merah yang terhampar luas di dataran Muzdalifah dipenuhi jemaah, termasuk dari Indonesia.

Bulan terlihat begitu besar, jadi pemandangan indah malam Muzdalifah, diiringi jemaah yang tengah memeluk doa-doa yang sejak lama mereka simpan rapat di dalam hati.

Suasana Mabit di Muzdalifah. Foto: Dok. MCH 2026

Ada yang berzikir, ada yang menengadahkan tangan dengan mata basah, ada pula yang diam memandangi langit seraya beristirahat setelah melakukan wukuf di Arafah dan perjalanan menuju Muzdalifah.

Angin gurun berembus pelan membawa dingin yang menusuk kulit, namun malam di Muzdalifah justru dipenuhi kehangatan harapan. Di lokasi ini, jemaah juga memungut kerikil-kerikil untuk nantinya digunakan lempar jumrah.

"Alhamdulillah, saya nikmat sekali meski tidur hanya sejenak di Muzdalifah," kata salah satu petugas haji, Pipit.

Suasana Mabit di Muzdalifah. Foto: Dok. MCH 2026

Setelah melakukan mabit, memungut kerikil, jemaah kemudian mengantre untuk naik bus menuju Mina. Di titik antrean bus ini, kesabaran jemaah benar-benar diuji, karena mengantre panjang.

Namun, pantauan di lokasi, jemaah diatur oleh ketua kloternya masing-masing untuk tidak berdiri sebelum gilirannya. Sehingga bisa beristirahat sejenak sembari menunggu bus. Satu per satu jemaah kemudian naik bus, berangkat menuju Mina.

Di Mina, jemaah akan beristirahat, sebelum melakukan lempar jumrah.