Saham BUMI Tertekan Aksi Jual Masif Saat IHSG Melemah

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali mengalami tekanan signifikan pada sesi pertama perdagangan Senin (11/5/2026). Penurunan ini memperpanjang tren negatif emiten batu bara milik Grup Bakrie dan Salim setelah sempat anjlok pada akhir pekan lalu.

Hingga pukul 10.42 WIB, harga saham BUMI terpantau merosot 2,78 persen atau berkurang 6 poin menuju posisi Rp 210 per lembar. Besarnya tekanan jual menempatkan instrumen ini sebagai salah satu saham yang paling aktif ditransaksikan di pasar reguler.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip dari Money menunjukkan sekitar 1,98 persen saham BUMI telah berpindah tangan. Frekuensi transaksi tercatat mencapai 41.628 kali dengan nilai transaksi menembus angka Rp 425 miliar.

Koreksi harga kali ini dipicu oleh masifnya aksi jual oleh investor. Berdasarkan catatan aplikasi Stockbit Sekuritas, BUMI membukukan net sell senilai Rp 164,8 miliar, yang menjadi angka tertinggi di antara jajaran saham lain yang sedang tertekan pagi ini.

Kondisi ini menambah beban bagi BUMI yang sebelumnya sudah terkoreksi tajam sebesar 6,09 persen pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Secara keseluruhan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga masih tertahan di zona merah hingga menjelang akhir sesi satu.

IHSG tercatat melemah 62,947 poin atau 0,90 persen ke level 6.906,449. Meskipun sempat dibuka pada posisi 6.959,943, indeks mendapat tekanan hebat hingga sempat menyentuh titik terendah di angka 6.846,632.

Upaya rebound yang dilakukan IHSG masih belum mampu menembus area psikologis 6.900-an. Pelemahan indeks didominasi oleh 445 saham yang bergerak di zona merah, berbanding terbalik dengan 229 saham yang menguat dan 137 saham lainnya stagnan.

Volume transaksi pasar secara total mencapai 22,428 miliar saham dengan frekuensi perdagangan mencapai 1,55 juta kali. Hari Rachmansyah, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), memberikan pandangannya terkait dinamika ini.

Hari menjelaskan bahwa pergerakan pasar pada periode 11-13 Mei 2026 akan dipengaruhi oleh berbagai faktor domestik maupun mancanegara. Perdagangan pekan ini hanya berlangsung selama tiga hari karena adanya libur nasional Kenaikan Yesus Kristus pada 14-15 Mei 2026.

“Baru-baru ini Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan keyakinannya bahwa perang Ukraina akan segera berakhir. Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa jam setelah ia berpidato menegaskan tekad kemenangan Rusia dalam perayaan Hari Kemenangan di Moskow yang berlangsung lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujar Hari.

Selain isu geopolitik Rusia, pasar juga memantau potensi pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Isu konflik di Iran diperkirakan akan menjadi agenda utama yang dibahas oleh kedua pemimpin tersebut.

“Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang negosiasi untuk isu-isu krusial lainnya seperti tarif perdagangan dan pasokan rare earth, sehingga ketidakpastian pada dua isu tersebut kemungkinan masih akan bertahan dalam waktu dekat,” kata Hari.

Sentimen Domestik dan Kebijakan Royalti

Dari dalam negeri, pelaku pasar sedang menantikan agenda rebalancing MSCI Indonesia pada 12 Mei 2026. Meskipun diperkirakan tidak ada emiten baru yang masuk, pergeseran bobot saham tetap berpotensi mengubah arah pergerakan pasar.

Kebijakan pemerintah terkait usulan perubahan tarif royalti untuk komoditas tambang juga menjadi sorotan. Kementerian ESDM telah melakukan public hearing mengenai penyesuaian tarif untuk tembaga, nikel, timah, emas, dan perak yang ditargetkan berlaku Juni 2026.

Hari menilai komoditas emas akan terdampak paling signifikan secara persentase kenaikan tarif. Sementara itu, sektor timah dianggap paling terpukul karena kenaikan tarif terjadi pada kedua ujung rentang tarif sekaligus.

“Yang perlu menjadi perhatian lebih lanjut, tekanan terhadap sektor minerba tidak berhenti pada kenaikan royalti semata. Wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax yang tengah dikaji Kementerian Keuangan turut menambah lapisan ketidakpastian, khususnya bagi subsektor nikel dan batu bara, sehingga volatilitas sektor minerba secara keseluruhan berpotensi bertahan dalam jangka pendek,” tutur Hari.