Santa Clara Gugat Meta Atas Iklan Penipuan di Facebook dan Instagram

Sedang Trending 57 menit yang lalu

Pemerintah County Santa Clara di California resmi melayangkan gugatan hukum terhadap Meta Platforms pada Senin (11/05/2026) atas dugaan pengambilan keuntungan dari iklan penipuan di Facebook dan Instagram. Langkah hukum yang diajukan ke Pengadilan Tinggi Santa Clara ini menuduh raksasa media sosial tersebut melanggar undang-undang persaingan bisnis tidak sehat.

Gugatan tersebut mewakili seluruh penduduk California dan menuding Meta menoleransi praktik periklanan curang dalam skala global demi menjaga arus pendapatan perusahaan. Pihak penggugat kini menuntut restitusi, ganti rugi perdata, serta perintah pengadilan untuk menghentikan praktik bisnis yang dinilai tidak adil tersebut.

Berdasarkan dokumen internal yang bocor dan sempat dilaporkan Reuters tahun lalu, Meta diduga menghasilkan pendapatan tahunan hingga 7 miliar dolar AS dari iklan berisiko tinggi. Iklan-iklan tersebut dilaporkan menunjukkan indikasi penipuan yang sangat jelas namun tetap dibiarkan tayang di platform mereka.

Pemerintah daerah setempat mengklaim bahwa Meta justru memasang parameter perlindungan untuk menghambat upaya pengurangan penipuan jika hal itu dianggap terlalu membebani biaya perusahaan. Meta juga dituduh memberikan celah bagi perantara untuk menjual akun iklan yang terlindungi dari penegakan aturan internal platform.

County Santa Clara juga menyoroti penggunaan kecerdasan buatan (AI) generatif milik Meta yang diduga membantu pemasar tidak etis dalam menciptakan materi iklan penipuan. Penasihat County Santa Clara, Tony LoPresti, menegaskan perlunya pertanggungjawaban hukum bagi perusahaan teknologi besar di wilayah Silicon Valley.

"The scale of Meta’s misconduct has reached an extraordinary level, and it needs to stop," ujar Tony LoPresti, Penasihat County.

LoPresti menambahkan bahwa sebagai jaksa sipil di pusat teknologi dunia, kantornya memiliki kewajiban khusus untuk memastikan perusahaan mematuhi hukum yang berlaku.

"As civil prosecutors in Silicon Valley, we have a special duty to hold tech companies accountable to the law," ujar Tony LoPresti, Penasihat County.

Hingga saat ini, pihak Meta belum memberikan tanggapan resmi segera setelah gugatan tersebut didaftarkan ke pengadilan. Namun, perusahaan pimpinan Mark Zuckerberg itu sebelumnya selalu membantah tuduhan bahwa mereka sengaja menerima iklan penipuan hanya demi mempertahankan target pendapatan.

Perusahaan bersikeras bahwa mereka telah melakukan upaya maksimal dalam memerangi penipuan karena konten tersebut merugikan pengguna dan pengiklan sah lainnya. Pernyataan tersebut pernah disampaikan oleh perwakilan perusahaan dalam menanggapi laporan serupa tahun lalu.

"We aggressively fight fraud and scams because people on our platforms don’t want this content, legitimate advertisers don’t want it and we don’t want it either," ujar Juru Bicara Meta.

Meskipun demikian, dalam berkas gugatannya, Santa Clara menilai pernyataan jaminan dari Meta tersebut justru merupakan bagian dari bentuk penyesatan informasi kepada publik. Meta dituding menyembunyikan fakta mengenai sejauh mana iklan palsu telah mendongkrak keuntungan finansial mereka selama ini.

Laporan pengadilan tersebut bahkan mengindikasikan bahwa Meta memiliki kemampuan teknis untuk mengatur volume iklan penipuan yang muncul di platform sesuai kebutuhan target finansial. Hal ini dilakukan untuk memuluskan laporan pendapatan atau mencapai target pendapatan tertentu yang telah ditetapkan perusahaan.

"On information and belief, Meta can even adjust the flood of scam ads it allows on its platforms in order to smooth its earnings or hit specific revenue targets," tulis Santa Clara dalam berkas gugatan.