Jakarta (ANTARA) - PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) membukukan laba bersih sebesar Rp101,89 miliar pada kuartal I 2026 di tengah tekanan persaingan industri semen dan kenaikan biaya energi global.
Direktur Utama SBI Rizki Kresno Edhie Hambali mengatakan transformasi bisnis yang dijalankan perseroan mulai menunjukkan hasil positif sejak akhir 2025.
“Result-nya sendiri dari sejak Q4 sudah kelihatan sebetulnya,” kata Rizki dalam paparan publik perseroan di Jakarta, Jumat.
Dalam paparan tersebut, SBI menyampaikan kinerja kuartal I 2026 ditopang peningkatan penjualan, pengelolaan biaya yang disiplin, serta optimalisasi operasional.
Perseroan mencatat volume penjualan semen dan terak mencapai 2,92 juta ton pada kuartal I 2026 atau tumbuh 1,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan perseroan juga meningkat 3,6 persen menjadi Rp2,56 triliun, sedangkan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) tumbuh 14,3 persen menjadi Rp358 miliar.
Menurut Rizki, transformasi digital turut mendorong pertumbuhan penjualan perseroan melalui perubahan pola kerja tim pemasaran di lapangan.
Ia mencontohkan tenaga penjual dan distributor kini menggunakan sistem geo-coding saat melakukan kunjungan ke toko sehingga perusahaan dapat memantau posisi stok dan kondisi pasar secara lebih cepat dan akurat.
“Sehingga intelijen kita terhadap market menjadi sangat tajam,” ungkap Rizki.
Direktur Operasi SBI Edi Sarwono mengatakan perusahaan juga meningkatkan efisiensi biaya produksi melalui pemanfaatan teknologi dan pengendalian operasi berbasis digital.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui penggunaan Advanced Process Control untuk menjaga stabilitas operasi dan efisiensi energi di pabrik.
“Sehingga akhirnya itu akan memberikan performa yang lebih efisien sehingga akan memberikan efek ke cost produksi yang lebih efisien,” ucap Edi.
Meski demikian, SBI masih menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya energi dan bahan penunjang yang dipicu dinamika geopolitik global.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko SBI Asruddin mengatakan kenaikan biaya bahan bakar mulai terasa terhadap operasional perseroan sepanjang awal 2026.
“Efek kenaikan BBM karena peristiwa geopolitik perang itu sudah mulai terasa di kita,” ujar Asruddin.
Menurutnya, perseroan telah melakukan stress test atau uji ketahanan terhadap kenaikan biaya energi serta menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga profitabilitas perusahaan.
Hingga April 2026, volume penjualan SBI disebut masih tumbuh sekitar 9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perseroan optimistis dapat menjaga margin profitabilitas di atas sekitar 6 persen sepanjang 2026 melalui berbagai strategi efisiensi dan pengendalian biaya.
"Kita sudah melakukan stress test terhadap kondisi ini, dan kita sudah identifikasi apa yang menjadi main issue, main problem yang harus kita address," tuturnya.
SBI sebelumnya mencatat laba tahun berjalan sebesar Rp658,7 miliar sepanjang 2025 dengan EBITDA mencapai Rp1,87 triliun.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), pemegang saham menyetujui penggunaan laba bersih tahun buku 2025, dengan 50 persen untuk pembayaran dividen dan 50 persen untuk operasional perseroan.
RUPST juga menyetujui laporan tahunan perseroan dan mengesahkan laporan keuangan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025.
Selain itu, rapat menyetujui penunjukan kantor akuntan publik sebagai auditor independen untuk tahun buku 2026, perubahan anggaran dasar perseroan, serta pengangkatan kembali Yasuhide Abe sebagai direktur perseroan hingga ditutupnya RUPST pada 2031.
Baca juga: PT SBI targetkan mulai ekspor 450 ribu ton semen ke AS akhir Mei 2026
Baca juga: PT SBI kolaborasi dengan Peruri untuk cetak koin emas fisik IDN Gold
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
9 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·