Agresi militer Israel selama 45 hari di wilayah Lebanon telah mengakibatkan kehancuran masif terhadap infrastruktur sipil yang menyebabkan 2.400 orang kehilangan nyawa dan sekitar 62.000 rumah mengalami kerusakan hingga Rabu (22/4/2026).
Data kerusakan properti tersebut mencakup ribuan unit yang hancur total maupun rusak ringan. Berdasarkan data yang dihimpun dari Detikcom, eskalasi konflik ini juga memicu krisis pengungsian besar-besaran di berbagai wilayah Lebanon.
Kepala Dewan Nasional untuk Penelitian Ilmiah (CNRS), Chadi Abdallah, memaparkan rincian kerugian material yang dialami warga akibat operasi militer tersebut dalam sebuah konferensi pers resmi.
"Dalam waktu sekitar 45 hari, kami mencatat 21.700 unit rumah hancur dan 40.500 unit rumah rusak," kata Kepala Dewan Nasional untuk Penelitian Ilmiah (CNRS), Chadi Abdallah.
Meskipun kesepakatan penghentian pertikaian sempat diupayakan, laporan lapangan menunjukkan bahwa aktivitas pemboman tetap terjadi di beberapa titik pemukiman penduduk. Kondisi ini memperparah akumulasi kerusakan bangunan yang sudah terjadi sejak awal serangan.
"CNRS juga memperkirakan bahwa 428 unit rumah hancur dan 50 rusak selama tiga hari pertama gencatan senjata," kata Abdallah.
Dampak kerusakan lingkungan juga menjadi sorotan otoritas setempat karena wilayah yang terdampak tidak hanya terbatas pada area perkotaan. Sektor agraris dan kawasan hijau turut mengalami degradasi serius akibat intensitas serangan yang tinggi.
Menteri Lingkungan Hidup Lebanon, Tamara Zein, menegaskan bahwa sasaran tembakan mencakup berbagai fasilitas vital negara mulai dari tempat tinggal hingga area hutan lindung.
Serangan Israel terhadap warga sipil telah merenggut lebih dari 2.400 nyawa sejak pertempuran kembali pecah pada 2 Maret 2026 lalu. Tingginya angka fatalitas ini dibarengi dengan mobilisasi warga yang meninggalkan kediaman mereka untuk mencari perlindungan yang lebih aman.
Hingga saat ini, tercatat lebih dari satu juta orang telah mengungsi akibat perselisihan bersenjata antara militer Israel dan kelompok Hizbullah. Sebagian besar pengungsi kehilangan akses terhadap hunian tetap mereka yang kini telah menjadi puing bangunan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·