Sistem Pengawasan Cina Semakin Canggih Mampu Lacak Individu Secara Menyeluruh

Sedang Trending 57 menit yang lalu

Sistem pengawasan terbaru di Cina kini memiliki kemampuan untuk melacak individu secara menyeluruh dan mendalam. Seperti dilansir dari Detikcom, teknologi canggih ini mengintegrasikan berbagai aspek data mulai dari pengenalan wajah di resor ski hingga nomor kursi kereta untuk menyusun profil lengkap seseorang.

Seorang peneliti keamanan siber yang menggunakan nama samaran NetAskari menemukan sistem ini setelah mengakses dasbor web Cina yang tidak terlindungi. Di dalam dasbor tersebut, ia menemukan basis data lengkap mengenai hampir semua jurnalis asing yang berbasis di Beijing sekitar tahun 2021.

Data sensitif yang tersimpan meliputi foto paspor resmi dari kantor imigrasi, nomor ponsel pribadi, rincian visa, hingga tanggal lahir. Bahkan, NetAskari juga menemukan informasi pribadinya sendiri masuk dalam daftar pantauan kepolisian setempat.

"Ini lebih menarik daripada mengejutkan," kata NetAskari kepada DW.

"Saat bekerja sebagai jurnalis di Cina, pada dasarnya Anda menganggap diri selalu berada dalam pengawasan. Namun, yang mengejutkan saya adalah betapa mudahnya mengakses sistem yang sangat sensitif ini," tambah NetAskari.

Model pengawasan terintegrasi ini dikenal dengan istilah "profil holografik" yang menggabungkan berbagai sumber data secara real time. Sistem tersebut awalnya dikembangkan untuk Biro Keamanan Publik di Zhangjiakou yang menjadi lokasi Olimpiade Musim Dingin 2022.

Jaringan pengawasan di negara tersebut telah berevolusi dari sekadar kamera CCTV di jalanan menjadi mesin pengendalian sosial berbasis analitik data yang beroperasi 24 jam. Pemerintah setempat mengintegrasikan berbagai sistem yang tersebar melalui proyek nasional bernama "Xueliang" atau "Mata Terang".

Kemampuan pelacakan kini jauh lebih spesifik karena teknologi ini mampu merekam nomor gerbong dan kursi kereta yang dinaiki seseorang dari kota besar seperti Beijing atau Shanghai. Selain itu, foto dari gerbang tiket berbasis pengenalan wajah di tempat wisata seperti resor ski langsung tersinkronisasi secara otomatis.

"Ide dasarnya adalah memproses sebanyak mungkin data dari sebanyak mungkin sensor secara real time," jelas NetAskari.

Sistem ini juga mengumpulkan aktivitas harian masyarakat secara detail termasuk konsumsi bahan bakar, lokasi belanja rutin, hingga pola kunjungan ke area tertentu. Gabungan data tersebut membentuk profil individu komprehensif yang mencakup lokasi fisik, kebiasaan konsumsi, dan jejak digital.

Jurnalis Asing Menjadi Target Pemantauan Utama

Aparat keamanan memberikan perhatian lebih besar kepada warga asing terutama jurnalis dari negara-negara Barat. Berdasarkan data fitur "smart report", fokus pelacakan ditujukan kepada warga dari negara kelompok "Five Eyes" yaitu Amerika Serikat, Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Kanada.

Sejumlah jurnalis asing ditandai dengan label khusus yang memicu peringatan otomatis kepada aparat begitu mereka memasuki suatu wilayah. Kondisi ini dinilai menjadi ancaman serius bagi jurnalisme independen karena metode konvensional untuk menghindari pengawasan tidak lagi efektif.

"Mereka tidak perlu lagi mengirim beberapa mobil untuk mengikuti Anda," kata NetAskari.

Aparat keamanan memanfaatkan akses ke data pembayaran digital, tiket perjalanan, dan jaringan sosial untuk memprediksi pergerakan seseorang secara presisi. Hal ini menyebabkan interaksi dengan narasumber dapat terdeteksi dengan mudah dan mempersempit ruang investigasi rahasia.

Kemampuan Prediksi Pergerakan Melalui Algoritma

Teknologi pengawasan ini mampu menganalisis hubungan antarmanusia dan memetakan jaringan sosial secara otomatis berdasarkan frekuensi interaksi yang tertangkap kamera. Pengembangan model relasi menyeluruh ini sudah berlangsung cukup lama melalui keterlibatan berbagai pihak dan korporasi teknologi.

Perusahaan teknologi Hisense tercatat mengajukan paten model relasi berbasis data perjalanan dan komunikasi pada 2019. Sementara itu, pada 2025, Biro Keamanan Publik Putuo di Shanghai mengalokasikan dana sekitar 200.000 dolar AS demi mengembangkan sistem arsip personel terpadu.

Metode pengawasan manual yang membutuhkan banyak tenaga kini digantikan oleh algoritma otomatis yang dinilai lebih efisien dan akurat. NetAskari menilai pengawasan di Cina berbeda dengan negara-negara demokrasi Barat yang menggunakan teknologi serupa seperti Palantir.

"Di negara demokrasi Barat, masih ada debat. Di Cina, debat itu hampir tidak ada. Polisi dan Kementerian Keamanan Negara bisa melakukan apa saja dengan pengawasan yang relatif minim," jelas NetAskari.

Melalui sistem pengawasan massal ini, pergerakan jurnalis asing maupun wisatawan biasa di resor ski seluruhnya terekam dalam satu basis data besar. NetAskari menyatakan bahwa dalam sistem tersebut manusia direduksi menjadi angka, pola, dan operasi matematis yang dapat dikendalikan.