Data BPJS Kesehatan menunjukkan sebanyak 79,5 juta peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah menjalani skrining kesehatan sepanjang tahun 2025. Dari total tersebut, terdapat 34,6 juta orang atau sekitar 43,6% peserta yang teridentifikasi memiliki risiko penyakit tertentu.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, hasil pemindaian kesehatan ini mengungkap bahwa 14,4 juta peserta memiliki risiko kanker serviks. Selain itu, terdapat 1 juta peserta lainnya yang terdeteksi berisiko mengalami kanker payudara.
Tren kasus kanker payudara di Indonesia terus mengalami lonjakan yang signifikan. Pada 2021 tercatat ada 1.080.031 kasus, namun angka tersebut melesat menjadi 1.941.410 kasus pada 2025 dengan biaya pelayanan mencapai Rp1,99 triliun.
Peningkatan kasus juga membayangi penyakit kanker serviks dalam periode lima tahun terakhir. Jumlah kasus yang sebelumnya 278.760 pada 2021 meningkat menjadi 452.522 kasus di tahun 2025, dengan biaya terverifikasi sebesar Rp723,74 miliar.
Tingginya angka tersebut menempatkan kanker payudara dan kanker serviks sebagai penyakit katastropik dengan beban pembiayaan yang sangat besar bagi program JKN. Deteksi dini pun dinilai menjadi faktor krusial untuk menjaga kualitas hidup para perempuan.
Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, menyatakan bahwa kemudahan akses layanan kesehatan bagi perempuan merupakan perwujudan semangat Kartini masa kini. BPJS Kesehatan fokus pada layanan preventif agar kondisi kesehatan peserta terjaga berkelanjutan.
"Semangat Kartini hari ini kami wujudkan melalui kemudahan akses layanan kesehatan bagi perempuan. BPJS Kesehatan hadir untuk memastikan perempuan dapat memperoleh layanan promotif dan preventif sejak dini, sehingga kondisi kesehatan dapat terjaga secara berkelanjutan," ujar Rizzky.
Layanan Kesehatan Reproduksi dan Persalinan
Program JKN saat ini telah menjamin berbagai jenis layanan kesehatan perempuan di berbagai fase kehidupan. Hal ini mencakup skrining IVA, Pap Smear, deteksi dini kanker payudara, hingga pemeriksaan masa kehamilan dan persalinan sesuai indikasi medis.
Rizzky menjelaskan bahwa pihaknya terus mendorong peserta untuk memanfaatkan layanan deteksi dini ini. Upaya edukasi dilakukan secara masif agar penyakit dapat ditangani lebih awal secara optimal sebelum kondisinya memburuk.
"BPJS Kesehatan tidak tinggal diam. Kami terus melakukan edukasi dan mendorong peserta, khususnya perempuan, untuk melakukan skrining deteksi dini, baik kanker payudara maupun kanker serviks. Upaya ini penting agar penyakit dapat diketahui lebih awal dan ditangani secara optimal," ujar Rizzky.
Data internal menunjukkan kesadaran peserta untuk melakukan skrining meningkat tajam. Skrining kanker payudara melonjak dari 7.440 peserta pada 2024 menjadi 30.159 peserta pada 2025, mencerminkan pemahaman masyarakat yang kian membaik.
Data Pelayanan JKN Tahun 2021-2025
Berikut adalah rincian cakupan layanan dan biaya kesehatan yang dikelola oleh BPJS Kesehatan dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
| 1.080.031 kasus | 1.941.410 kasus |
| Rp1,03 triliun | Rp1,99 triliun |
| 278.760 kasus | 452.522 kasus |
| Rp410,34 miliar | Rp723,74 miliar |
| 2.365.927 kasus | 2.670.364 kasus |
Selain deteksi dini, penguatan layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dipertegas melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2023. Aturan ini menjamin peserta mendapatkan enam kali pemeriksaan kehamilan (ANC) serta layanan rujukan medis.
Rizzky menegaskan perlindungan kesehatan yang diberikan BPJS Kesehatan mencakup seluruh aspek, mulai dari pencegahan hingga penanganan persalinan dan skrining bayi baru lahir.
"BPJS Kesehatan tidak hanya menjamin layanan pengobatan, tetapi juga memastikan perempuan mendapatkan perlindungan kesehatan secara menyeluruh, mulai dari deteksi dini kanker hingga layanan kehamilan dan persalinan," kata Rizzky.
Tren jumlah persalinan yang dijamin oleh JKN tetap stabil dan tinggi dalam lima tahun terakhir. Pada 2025, total biaya terverifikasi untuk 2,67 juta kasus persalinan mencapai angka Rp10,03 triliun.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·