Spiritualitas dan Kesadaran Ekologis

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Foto Milik Pribadi

Kerusakan lingkungan pada saat ini, menurutku bukan hanya faktor industri saja loh, namun dibalik itu didapati krisis moral yang berakar dari krisis spiritual. Kok bisa? Mari kita bahas lebih lanjut.

Semisal, dalam persoalan produksi motor. Proses produksi motor membutuhkan nikel (motor listrik), tembaga, besi, minyak bumi, dan sebagainya. Misalnya di daerah Jakarta, total sepeda motor yang terdaftar dan aktif di wilayah hukum DKI Jakarta saja mencapai 9,16 juta unit. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta yang bersumber dari Korlantas Polri.

Untuk membuat motor sebanyak 9,16 juta unit tersebut maka betapa banyak lingkungan yang mesti kita rusak, tanah yang mesti kita gali, hutan yang mesti kita tebang, sungai dan laut yang telah kita cemari? Betapa besar kita melukai bumi?

Belum lagi kita membangun fasilitas untuk kendaraan tersebut. Betapa luas lingkungan yang mesti kita rusak untuk membangun jalan? Belum lagi pembelian dan produksi motor yang terus bertambah sehingga menimbulkan kemacetan, maka mesti seberapa lebar lagi lingkungan yang mengalami degradasi untuk pelebaran jalan? Belum lagi, polusi yang dikeluarkan kendaraan tersebut?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta, Rata-rata Kepemilikan: 3,2 unit motor per rumah tangga. Angka ini diperoleh dari total 9,16 juta unit motor yang aktif dibagi dengan 2,80 juta total keluarga di Jakarta. Jumlah kendaraan kemungkinan akan terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan budaya konsumsi masyarakat”. Sedangkan Industri tidak akan berhenti untuk melukai bumi, karena industri mengikuti kemauan pasar. Mereka akan terus subur selama manusia terus mengejar kepemilikan tanpa batas.

Alam, dan lingkungan yang terus dicemari, dirusak dan digali. Menciptakan perubahan iklim, merusak habitat habitat, dan merusak tempat tinggal orang orang adat. Tidak hanya alam dan hewan yang dirugikan, tetapi manusia juga terkena imbasnya. Sebagaimana Tim Greenpeace Indonesia dalam seminarnya yang bertajuk Islam, HAM, dan Keadilan bagi penjaga alam. Mengatakan “gajah itu punya rute sendiri dan selalu di rutenya sendiri, ketika iklim berubah mereka masuk ke pemukiman warga, sehingga mereka buang air di sungai . Yang mana sungai tersebut digunakan oleh masyarakat adat untuk mandi dan minum, alhasil mereka (masyarakat adat) mengalami diare".

Namun apabila kita mengikuti ajaran ajaran agama agar hidup berkecukupan, memiliki empati yang tinggi dan Rasional, menurutku itu semua tidak akan terjadi. Kemungkinan besar kita lebih memilih jalan kaki, naik sepeda atau naik transportasi umum. Apalagi opsi tersebut dapat mengurangi pencemaran lingkungan.

Menurutku, meningkatnya pembelian kendaraan dalam sebagian kasus dipengaruhi oleh dorongan ego, gengsi sosial, dan keinginan konsumtif yang sulit dikendalikan. Akibatnya, kendaraan tidak lagi dipandang sebagai alat pemenuh kebutuhan semata, melainkan juga sebagai simbol status dan kepuasan pribadi. Padahal, pola konsumsi yang berlebihan semacam ini secara tidak langsung turut memperbesar eksploitasi alam dan memperparah kerusakan lingkungan.

Agama mengajarkan nilai hidup berkecukupan. Namun yang dimaksud hidup berkecukupan di sini, adalah sebagai kondisi terpenuhinya kebutuhan dasar yang disertai dengan rasa syukur, pengendalian diri, dan kesederhanaan.

Dalam agama Islam hidup berkecukupan dinamakan dengan Qana’ah. Dalam kitab sucinya, Allah berfirman: “bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan”.

Agama Buddha mengajarkan agar melenyapkan Tanha (keinginan yang berakar pada keserakahan, kehausan yang tidak pernah puas, dan kemelekatan egois) untuk mencapai kebebasan.

Agama Kristen mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati berasal dari kepuasan rohani bukan materi. Salah satu ayat terkenal menyebutkan, "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah" (1 Timotius 6:8).

Berlebihan dalam hal apa pun tidak dianjurkan oleh agama, berlebihan dalam reproduksi, konsumsi, dan sebagainya. Apalagi di era sekarang. Bertumbuhnya penduduk beriringan dengan bertumbuhnya pangan, energi, kendaraan, perumahan, dan sebagainya. Nah, kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh industri untuk terus memperluas produksi dan eksploitasi sumber daya alam demi memenuhi permintaan pasar.

Oleh karena itu, persoalan ekologi sejatinya juga merupakan persoalan batin manusia. Selama manusia terus dikendalikan oleh hawa nafsu dan keinginan yang berlebihan, alam akan terus dieksploitasi tanpa batas. Karena itu, manusia perlu mengendalikan nafsunya dengan akal, hati nurani, dan nilai-nilai spiritual agar tercipta kehidupan yang bijak dan selaras dengan alam.