Stabilitas Rupiah Menguat Berkat Sinergi Kebijakan Moneter dan Fiskal

Sedang Trending 13 jam yang lalu

Mata uang rupiah mencatatkan performa gemilang dengan penguatan sebesar 1,2% dalam lima hari terakhir. Berdasarkan data yang dihimpun, capaian ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terbaik kedua di kawasan Asia setelah peso Filipina. Seperti dilansir dari Bloomberg Technoz, apresiasi nilai tukar rupiah dan mata uang di kawasan regional ini didorong oleh meredanya tensi geopolitik global antara Amerika Serikat dan Iran.

Kesepakatan sementara kedua negara untuk membuka kembali Selat Hormuz berhasil memangkas premi risiko energi, yang pada gilirannya memicu pemulihan minat investor terhadap aset-aset di negara berkembang. Kendati demikian, tren positif mata uang Garuda tidak semata-mata dipicu oleh sentimen eksternal. Di balik ketangguhan rupiah belakangan ini, terdapat intervensi aktif yang dilakukan oleh otoritas moneter serta fiskal dalam meredam tekanan pasar.

Bank Indonesia menunjukkan komitmen penuh dalam mengawal stabilitas nilai tukar melalui serangkaian kebijakan ketat. Selain mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing, pasar obligasi, serta instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), bank sentral juga mengerek suku bunga acuan total sebesar 75 basis poin (bps) dalam sebulan terakhir.

Langkah preemtif ini memperlebar selisih imbal hasil domestik menjadi lebih kompetitif. Kondisi tersebut terbukti efektif menahan laju aliran modal keluar sekaligus memicu kembalinya arus investasi asing ke pasar keuangan dalam negeri. Selain itu, Bank Indonesia menaikkan imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi 7,64% dalam lelang yang berlangsung pada Jumat (12/6/2026). Daya tarik imbal hasil yang tinggi ini sukses menjaring dana investor domestik maupun internasional.

Data dari Bank Indonesia menunjukkan nilai outstanding SRBI pada Mei 2026 melesat hingga Rp979,88 triliun. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 17,1% jika dibandingkan dengan posisi akhir Februari yang tercatat sebesar Rp837,22 triliun. Lonjakan outstanding tersebut turut ditopang oleh kepemilikan investor asing atau non-residen yang menyentuh Rp216,48 triliun pada Mei. Nilai ini meningkat sekitar 43,6% dari posisi Februari 2026 yang sebesar Rp150,79 triliun, yang berarti investor asing menyuntikkan dana segar sekitar Rp65,69 triliun dalam kurun waktu dua bulan.

Aksi Buyback Saham dan Sinyal Disiplin Fiskal Pemerintah

Faktor domestik lain yang memperkuat rupiah adalah aksi beli kembali atau buyback saham bank-bank Himbara. Langkah strategis ini dimotori oleh Danantara bersama sejumlah investor lokal serta pengelola dana publik, termasuk BPJS Ketenagakerjaan. Aktivitas buyback ini berjalan mulus menyusul adanya kebijakan pelonggaran dari otoritas terkait.

Kebijakan tersebut memberikan fleksibilitas bagi emiten untuk melakukan buyback tanpa memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) saat pasar mengalami gejolak tinggi. Dari sisi fiskal, pemerintah berencana melakukan restrukturisasi anggaran pada sejumlah program prioritas nasional. Program yang masuk dalam rencana penyesuaian ini antara lain Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Juru Bicara Presiden Prasetyo Hadi pada pekan lalu menyatakan bahwa pemerintah tengah mengkaji ulang tata kelola seluruh aspek program MBG. Evaluasi tersebut mencakup penghitungan kembali daftar penerima manfaat yang ditargetkan selesai dalam satu bulan ke depan.

Langkah komunikasi pemerintah mengenai penyesuaian anggaran ini direspon positif oleh pelaku pasar. Kebijakan tersebut dipandang sebagai komitmen kuat dalam menjaga disiplin anggaran, mengingat kredibilitas fiskal merupakan jangkar utama pertahanan rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global.