Staf Senior PKT RSCM Faridah Utami Meninggal dalam Kecelakaan KRL

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Faridah Utami, seorang staf senior di Pusat Krisis Terpadu (PKT) RSUP Nasional dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), meninggal dunia akibat tragedi kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Insiden ini merenggut nyawa sosok yang dikenal sebagai garda terdepan dalam pendampingan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Subpelayanan Unit Pelayanan Forensik, Medikolegal, dan Pemulasaraan Jenazah RSCM-FKUI, dokter Yudy, pada Selasa pagi setelah proses identifikasi resmi selesai. Faridah diketahui baru saja kembali dari kampung halamannya di Boyolali dalam kondisi kurang sehat dan sedang menjalani masa cuti saat kecelakaan terjadi.

"Sudah lama. Mungkin sekitar 2000-an awal (masuk di RSCM)," ucap Yudy mengenai masa bakti Faridah yang telah mencapai 26 tahun di instansi tersebut.

Penempatan Faridah di unit PKT dimulai sejak tahun 2017 setelah ia menyelesaikan pendidikan magister. Dalam peran harian, ia menjadi rujukan utama bagi penyidik kepolisian terkait visum serta mengoordinasikan puluhan hingga seratusan kasus kekerasan setiap bulannya.

"Buat saya pribadi, kalau ditanya begitu apa yang menonjol dari Bu Faridah, menurut saya keramahannya," tuturnya.

Yudy menambahkan bahwa Faridah mengalami luka yang sangat serius dalam peristiwa di perlintasan kereta tersebut dibandingkan korban lainnya.

"Memang kondisinya paling berat di antara semuanya, di antara semua korban ini kondisi beliau paling berat," ungkapnya.

Vania Paramitha, salah satu peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Forensik RSCM, mengenang Faridah sebagai pembimbing lapangan yang sangat menekankan pendekatan empati kepada para pasien.

“Bu Faridah juga ikut membantu menyemangati korban-korban ini dan, misalkan mereka cenderung tidak mau cerita, Bu Faridah meyakinkan dan menenangkan para pasien ini supaya mau bercerita tentang kejadian-kejadian mereka,” ucap Vania.

Faridah juga dikenal tidak segan berbagi ilmu praktis mengenai alur penanganan pasien pascapemeriksaan forensik kepada para residen kedokteran.

“Setiap hari itu juga ceria, selalu nyambut kami. Beliau juga termasuk guru kami ya, karena banyak juga beliau mengajari kami dari alur-alur pengerjaan pasien, kemudian alur setelah selesai pemeriksaan kami harus melakukan apa,” kata Vania.

Meskipun memiliki pengalaman senior, Faridah kerap menunjukkan sikap rendah hati dan cara menegur yang halus agar tidak menyinggung perasaan para juniornya.

“Kami banyak belajar dari beliau, dari cara bertanya, kemudian cara menanggapi, menjadi pendengar yang baik. Itu kami betul-betul banyak belajar dari beliau," sambungnya.

Kesabaran Faridah dalam memberikan koreksi dilakukan secara privat agar tetap menjaga kenyamanan komunikasi antara dokter dan pasien.

“Kalau misalkan ada pasien kami mau wawancara, kemudian nanti Bu Faridah menegurnya tidak pada saat sedang wawancara dengan pasien, tapi nanti diberikan masukan-masukan. Nanti lebih baik ke depannya seperti ini, atau ‘bertanyanya seperti ini’,” ujarnya.

Selain aspek profesional, Faridah sering menjadi tempat bersandar bagi para peserta didik untuk mencurahkan persoalan pribadi di luar urusan medis.

“Kalau misalkan kita cerita tentang masalah pribadi, masalah di rumah, misalkan yang tidak ada kaitan dengan pendidikan, beliau juga mendengarkan. Mendengarkan, memberikan nasihat, bukan sedang menjadi guru kami, tapi bisa menjadi orang tua juga,” ujarnya.

Kedekatan emosional tersebut membuat kepergian Faridah meninggalkan duka mendalam bagi lingkungan kerja di RSCM.

“Kasih nasihat tanpa membuat sakit hati atau seperti apa,” sambung Vania. “Beliau yang saya dapat kesannya sangat lembut.”

Jenazah almarhumah sempat disemayamkan di RSCM pada petang hari sebelum akhirnya dipulangkan ke Boyolali untuk dimakamkan.

“Sore-malam itu disemayamkan di RSCM sebelum dibawa ke Boyolali. Baru kami semua kumpul di situ bersama keluarga Bu Faridah,” kata Vania.

Ira Pattihahuan, PPDS Ilmu Kedokteran Forensik lainnya, menggambarkan sosok Faridah sebagai perwujudan nyata dari nilai-nilai kebaikan dalam profesi medis.

“Bu Faridah ini adalah bentuk buku yang benar-benar nyata, terpampang di depan mata gitu. Jadi benar-benar perwujudan nyata dari empati, kindness, compassionate gitu. Pokoknya kompletlah Bu Faridah itu, kayak malaikat ya kalau kita bilang gitu," ujar Ira.

Dalam menangani kasus anak, Faridah memiliki metode khusus untuk mencairkan suasana dengan menyediakan mainan agar korban merasa aman.

“Orang yang lagi di kondisi seperti itu kan kita nggak bisa maksa buat cerita, kan. Jadi benar-benar yang dikasih waktu untuk menenangkan diri,” kata Ira.

Pendekatan yang sama juga diterapkan kepada korban dewasa dengan memberikan jaminan bahwa tim medis hadir untuk memberikan bantuan sepenuhnya.

“Jadi, ‘Nggak apa-apa, ini kita semua membantu kamu,’ yang kayak gitu-gitu tuh,” ujarnya.

Ira juga mengenang bagaimana Faridah tetap memberikan perhatian kecil seperti menawarkan makanan kepada rekan kerja yang kelelahan saat menangani lonjakan kasus.

“Terus Bu Faridah, ‘Ayo, Dokter, ini saya ada bekal, makan dulu,’ kayak gitu.”

Keahlian koordinasi Faridah teruji saat rumah sakit harus menangani beberapa korban secara bersamaan dalam satu waktu yang singkat.

“Kalau nggak ada Bu Faridah, itu mungkin bisa lebih lama lagi kita menangani kasusnya. Jadinya kasihan korbannya juga kan kalau pelayanannya lama gitu loh," ungkap Ira.

Sikap suportifnya membuat para dokter residen merasa lebih tenang dalam menjalankan tugas di unit yang penuh tekanan psikis tersebut.

“Tapi beliau itu tipikal yang, ‘Udah… nggak apa-apa, Dokter sudah melakukan yang terbaik.’”

Rekan-rekan sejawat dan berbagai profesi di rumah sakit turut hadir memberikan penghormatan terakhir saat jenazah Faridah berada di RSCM.

“Itu benar-benar semua orang datang,” katanya. “Semua orang… semuanya tuh bilang, ‘Ini benar-benar kita kehilangan banget.’”