Jakarta -
Malaysia punya cara sendiri untuk menjaga subsidi BBM tetap tepat sasaran.
Di tengah tekanan harga energi dan beban subsidi yang terus membesar, pemerintah setempat tidak langsung menghapus subsidi solar, melainkan memperketat sistem distribusinya lewat skema khusus.
Terbaru, pemerintah Malaysia mulai memperluas Subsidised Diesel Control System (SKDS) ke wilayah Sabah, Sarawak, dan Labuan. Skema ini sebelumnya sudah diterapkan di Semenanjung Malaysia untuk mengawasi penyaluran solar subsidi kepada sektor angkutan barang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip laporan media otomotif Malaysia Paultan, sistem SKDS mencakup 23 kategori kendaraan niaga seperti truk kargo, truk pendingin, hingga kendaraan tangki.
23 Jenis Kendaraan yang Berhak Dapat Subsidi Solar di Malaysia Foto: dok. Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Kos Sara Hidup Malaysia
Operator transportasi yang memenuhi syarat nantinya wajib mendaftar lewat portal MySubsidi untuk mendapatkan kartu armada khusus dari perusahaan minyak.
Kartu tersebut menjadi akses utama untuk membeli solar subsidi. Dengan begitu, distribusi BBM bisa dipantau lebih ketat dan potensi penyalahgunaan subsidi dapat ditekan.
Menteri Perdagangan Dalam Negeri dan Biaya Hidup Malaysia Datuk Armizan Mohd Ali mengatakan, langkah tersebut merupakan bagian dari persiapan memperkuat subsidi yang lebih tertarget di masa depan.
"Kami ingin memastikan pasokan bahan bakar tidak mengalir ke luar negeri dan tidak digunakan pihak tidak bertanggung jawab, sehingga keamanan pasokan bagi masyarakat dan industri tetap terjaga," ujar Armizan dikutip dari Paultan.
Menariknya, pemerintah Malaysia juga menyadari tidak semua wilayah memiliki akses digital yang baik. Karena itu, selain pendaftaran online, pemerintah menyediakan layanan registrasi fisik melalui kantor kementerian dan loket bergerak di daerah.
Langkah ini diapresiasi kelompok konsumen di Malaysia karena dianggap lebih ramah bagi pelaku usaha kecil, petani, nelayan, hingga operator transportasi di daerah terpencil yang kesulitan mengakses layanan digital.
Skema seperti ini terasa relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Sebab, pemerintah Indonesia juga menghadapi tantangan besar menjaga subsidi energi tetap tepat sasaran di tengah mahalnya harga BBM nonsubsidi.
Per 7-13 Mei 2026, harga diesel di Semenanjung Malaysia berada di level RM 5,17 per liter atau sekitar Rp 19 ribuan per liter. Sementara di Sabah, Sarawak, dan Labuan, harga diesel masih disubsidi di angka RM 2,15 per liter atau setara Rp 8 ribuan.
Harus diakui, harga solar subsidi Indonesia lebih murah ketimbang di Malaysia. Saat ini harga Biosolar subsidi di Indonesia masih dipatok Rp 6.800 per liter.
Namun harga solar nonsubsidi terpaut jauh lebih mahal. Di Jakarta misalnya, harga Pertamina Dex kini berada di level Rp 27.900 per liter, sedangkan Dexlite mencapai Rp 26.000 per liter.
Indonesia Sudah Punya Caranya
Indonesia sendiri sebenarnya mulai bergerak ke arah subsidi yang lebih tertarget. Salah satunya lewat penggunaan QR Code MyPertamina dan pembatasan kendaraan penerima BBM subsidi.
Namun pendekatan Malaysia menunjukkan bahwa pengawasan subsidi tak cuma soal membatasi pembelian, melainkan juga membangun sistem distribusi yang lebih rapi.
Mulai dari klasifikasi kendaraan penerima subsidi, penggunaan kartu armada khusus, hingga tetap menyediakan jalur offline untuk masyarakat di daerah dengan keterbatasan internet.
Di tengah harga BBM global yang masih fluktuatif, tantangan menjaga subsidi energi diperkirakan bakal semakin berat. Karena itu, berbagai negara kini mulai mencari cara agar subsidi tetap ada, tetapi lebih tepat sasaran dan tidak membebani anggaran negara secara berlebihan.
(mhg/rgr)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·