Aktivitas vulkanik Gunung Slamet di Jawa Tengah kembali meningkat pada Sabtu, 18 April 2026, ditandai dengan kenaikan suhu kawah dari 461,9 derajat celsius menjadi 478,7 derajat celsius. Otoritas terkait menginstruksikan masyarakat dan wisatawan untuk menjauhi radius 3 kilometer dari puncak karena adanya potensi hembusan gas berbahaya.
Berdasarkan data dari pos pengamatan di Desa Gambuhan, Pemalang, gunung setinggi 3.432 mdpl ini juga mengeluarkan asap putih setinggi 300 meter. Meskipun terjadi peningkatan intensitas, status Gunung Slamet saat ini masih bertahan di Level II atau Waspada.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Slamet, Muhammad Rusdi, memberikan penjelasan mendalam mengenai kondisi teknis di lapangan saat ini kepada media.
"Berdasarkan pengukuran rutin terjadi kenaikan suhu di kawah gunung," kata Muhammad Rusdi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Slamet.
Ia menegaskan bahwa peningkatan suhu tersebut telah dikoordinasikan dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk pemantauan lebih lanjut.
"Selain terlihat kepulan asap putih akibat suhu meningkat, juga terjadi kegempaan hembusan," tambahnya.
Terkait status kebencanaan, Rusdi memastikan belum ada peningkatan level meskipun ancaman seperti erupsi abu dan lontaran material pijar tetap mengintai.
"Betul, hasil pengukuran rutin menunjukkan kenaikan (suhu kawah)," kata Rusdi.
Pihaknya terus melakukan pemantauan harian dan akan segera merilis laporan resmi jika terjadi anomali yang lebih membahayakan keselamatan publik.
"(Status dan rekomendasi) masih sama semua, ketika terjadi sesuatu biasanya kami keluarkan Laporan Khusus," terang Rusdi.
Kondisi ini menyusul laporan Badan Geologi Kementerian ESDM pada 3 April lalu serta munculnya bau belerang menyengat di wilayah Purbalingga pada 9 April 2026.
Di sisi lain, kehidupan warga di lereng gunung yang meliputi wilayah Pemalang, Tegal, Brebes, Banyumas, dan Purbalingga terpantau tetap berjalan normal. Harjono, seorang petani di Pulosari, memberikan keterangannya mengenai situasi di lahan pertanian.
"Kami tetap mengolah lahan pertanian, yang penting tidak naik ke puncak mendekati kawah," ujar Harjono, seorang petani di Pulosari.
Kesaksian serupa datang dari wilayah lain di kaki gunung yang menyebutkan bahwa fenomena asap kawah merupakan hal yang lumrah bagi penduduk lokal.
"Kami sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini terjadi setiap tahunnya, jadi kami tidak terpengaruh dan tetap beraktivitas bertani," kata Suwardi, petani di Bobotsari.
Hingga saat ini, para petani di lereng gunung masih tetap menjalankan rutinitas menanam komoditas sayuran seperti kentang, wortel, dan kol.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·