Super El Nino Menguat di Samudra Pasifik: Bisa Sebabkan Cuaca Ekstrem-Kekeringan

Sedang Trending 46 menit yang lalu
Ilustrasi El Nino. Foto: Neenawat Khenyothaa/Shutterstock

Prediksi terbaru menunjukkan keyakinan yang semakin besar bahwa fenomena El Niño yang sedang berkembang di Samudra Pasifik tropis berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. Para ilmuwan memperingatkan ancaman suhu global yang memecahkan rekor hingga dampak kemanusiaan berskala besar.

Sejumlah wilayah di Pasifik mengalami pemanasan cepat dalam beberapa pekan terakhir. Data terbaru pekan ini menunjukkan suhu permukaan laut berada sekitar 0,5 derajat Celsius di atas normal, salah satu ambang batas yang digunakan untuk menandai awal kemunculan El Niño, fenomena pemanasan alami di Samudra Pasifik.

Fenomena tersebut diperkirakan akan terus menguat dalam beberapa bulan ke depan dan berpotensi mencapai puncaknya sebagai super El Niño.Para ilmuwan khawatir, dampak El Niño terhadap pola cuaca global, termasuk kemungkinan tahun 2027 yang diprediksi menjadi tahun terpanas dalam catatan sejarah.

Dalam proyeksi terbaru, National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA) memperkirakan El Niño akan mulai terbentuk dalam waktu satu bulan ke depan. NOAA juga mengingatkan bahwa El Niño akan berkembang menjadi kuat atau bahkan sangat kuat pada musim dingin mendatang. Laju pemanasan di Pasifik tropis dalam beberapa pekan terakhir juga dinilai sangat cepat.

Apa Itu Super El Niño

Walaupun El Niño terbentuk di seluruh Pasifik tropis, para ilmuwan biasanya fokus pada wilayah bernama Niño 3.4, area di Samudra Pasifik tropis yang digunakan sebagai acuan utama untuk mendeteksi fenomena iklim El Niño dan La Niña. Terletak di Pasifik tengah hingga timur, koordinat wilayah ini berada di antara 5° LU - 5° LS dan 170° BB - 120° BB.

El Niño disebut kuat atau super El Niño ketika kenaikan suhu di wilayah tersebut melampaui 1,5 derajat Celsius. Prediksi dari European Centre for Medium Range Weather Forecasts (ECMWF), NOAA, dan Bureau of Meteorology (BoM) di Australia menunjukkan hasil yang relatif serupa.

Pulau baru muncul di Samudra Pasifik. Foto: Landsat 9/NASA Earth Observatory

Prediksi BoM juga dengan yakin menunjukkan kemungkinan berkembangnya El Niño sangat kuat pada akhir tahun ini. Bahkan, beberapa data prakiraan memperkirakan kenaikan suhu bisa melampaui 3 derajat Celsius, melewati rekor puncak saat ini sebesar 2,7 derajat Celsius yang tercatat pada 1877.

Namun, para ilmuwan mengingatkan bahwa catatan tahun 1877 berasal dari era dengan pengamatan yang masih terbatas sehingga tingkat ketidakpastiannya cukup tinggi.

El Niño pada 1877 berlangsung sekitar 18 bulan dan memicu bencana iklim global besar. Fenomena itu menyebabkan kekeringan ekstrem dan kelaparan luas di Asia, Brasil, serta Afrika yang menewaskan jutaan orang, sementara wilayah lain seperti Peru justru mengalami banjir parah.

Super El Niño terakhir terjadi pada 2015–2016 ketika rata-rata kenaikan suhu Nino 3.4 selama November hingga Januari mencapai 2,4 derajat Celsius.

Dampak El Niño

Dengan tambahan panas di Pasifik timur, dampak terbesar El Niño adalah mendorong kenaikan suhu rata-rata global, biasanya sekitar 0,2 derajat Celsius.

Dilansir BBC, profesor risiko dan ketahanan iklim dari University of Reading, Liz Stephens, mengatakan bahwa dunia kemungkinan akan menghadapi rekor suhu global baru tahun depan, terutama jika El Niño kali ini sangat kuat.

El Niño dapat menyebabkan cuaca menjadi lebih panas dan kering. Di Indonesia, secara umum dampak dari El Niño adalah kondisi kering dan berkurangnya curah hujan. Ini berpeluang menyebabkan kekeringan yang dapat menurunkan produksi dan cadangan pangan.

Ilustrasi kekeringan. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Sementara di belahan Bumi lain, El Niño dapat menyebabkan cuaca ekstrem. Meski dampak cuaca paling langsung biasanya terasa di sekitar Samudra Pasifik, setiap El Niño memiliki karakteristik berbeda tergantung kekuatan dan seberapa luas pengaruhnya terhadap pola cuaca global.

Banjir umum terjadi di Peru utara dan Ekuador selatan, tetapi juga berpotensi melanda Afrika Timur, Asia Tengah, dan sebagian wilayah selatan Amerika Utara.

Di sisi lain, El Niño juga cenderung menekan pembentukan badai tropis Atlantik. Para peramal cuaca bahkan memprediksi musim badai Atlantik tahun ini akan lebih tenang dibanding rata-rata.

“Walaupun terdengar seperti kabar baik, bagi Amerika Tengah kondisi itu justru berarti curah hujan lebih sedikit dan potensi kekeringan,” ujar Prof Stephens.

Bukan hanya Indonesia, El Niño juga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan di sebagian Australia dan wilayah utara Amerika Selatan. Dampaknya dapat memukul sektor pertanian dan mengurangi stok pangan global.

Ancaman Krisis Kemanusiaan

Kondisi global yang sudah tidak stabil membuat dampak El Niño berpotensi semakin berat.

Penutupan Selat Hormuz, misalnya, disebut telah mengganggu distribusi pupuk dan mendorong kenaikan harganya. Situasi itu diperkirakan memengaruhi hasil panen dalam beberapa bulan mendatang melalui penurunan pasokan pangan dan kenaikan harga.

“Anda sudah memiliki lebih banyak orang yang hidup dalam kemiskinan. Jika hasil panen turun akibat kekeringan atau banjir karena El Niño, maka harga pangan akan semakin naik,” kata Prof Stephens.

“Jadi, kita berpotensi menghadapi dampak kemanusiaan yang sangat besar tahun ini, terutama jika krisis di Timur Tengah terus berlanjut.”